×

Warning

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Puskesmas Alak merupakan salah satu puskesmas yang berada di wilayah Kota Kupang, Provinsi NTT, tepatnya di Kelurahan Nunbaun Sabu dengan luas wilayah kerja 14,19 KM2 dari luas Kota Kupang (180,2 Km2). Wilayah kerja Puskesmas Alak meliputi 9 kelurahan, yaitu kelurahan Alak, kelurahan Manutapen, kelurahan Fatufeto, kelurahan Nunhila, kelurahan Mantasi, kelurahan Nunbaun Delha, kelurahan Nunbaun Sabu, kelurahan Namosain dan kelurahan Penkase-Oeleta. Jumlah penduduk yang dilayani sebanyak 42.299 jiwa yang tersebar di 9 kelurahan. 
 
Puskesmas Alak merupakan puskesmas pertama di Kota Kupang yang secara mandiri mau mereplikasi kegiatan reformasi puskesmas menggunakan dana sendiri, tanpa dukungan dari pihak luar. Beberapa kegiatan reformasi yang sudah dilakukan antara lain survey pengaduan; lokakarya internal untuk membahas hasil survey dan membuat maklumat; serta membentuk Badan Penyantun Puskesmas (BPP) Alak.
 
Sejak proses menuju reformasi Puskesmas, Puskesmas Alak mulai berbenah diri. Melalui tangan dingin dr Trio Hardhina, sejak tahun 2013 Puskesmas Alak mulai mencoba untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.  Langkah awal yang dilakukan oleh dr Trio bersama jajarannya adalah memisahkan pelayanan berdasarkan jenis kelamin, dan usia. Hal ini terbukti dengan adanya poli khusus laki-laki, poli khusus perempuan, poli khusus anak, poli khusus remaja dan poli khusus lansia, yang resmi beroperasi pada tanggal 15 Maret 2013. 
 
 
Ketika ditanya mengapa harus ada pemisahan poli, dr Trio menjawab bahwa pemisahan poli dilakukan untuk memberikan pelayanan lebih kepada pasien; dan memberikan kenyaman bagi pasien untuk mengungkapkan penyakit yang diderita. Lebih lanjut dr Trio menceritakan bahwa pada akhir tahun 2012, ada seorang pasien laki-laki yang menderita penyakit kelamin datang berobat ke Puskesmas Alak. Pasien ini malu untuk mengungkapkan penyakitnya karena dalam ruangan terdapat banyak pasien perempuan. Setelah dilakukan pendekatan secara personal, pasien ini akhirnya mau berterus terang tentang penyakitnya.
 
Berkaca dari pengalaman ini, Puskesmas Alak mulai berbenah dengan memisahkan poli pelayanan. Untuk memberikan kenyamanan kepada pasien, petugas yang ditempatkan di poli laki-laki adalah perawat laki-laki, dan perawat perempuan di poli perempuan. 
 
Manajemen Puskesmas Alak tidak hanya memperhatikan kenyamanan pasien saja, tetapi juga memperhatikan keyamanan perawat. Di setiap poli, dr Trio membuat surat ucapan terimakasih dan ditempelkan pada dinding poli. Ucapan terima kasih ini ternyata sangat memotivasi perawat di setiap poli untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien. Beberapa pasien yang ditemui mengatakan sangat senang dengan pemisahan poli ini karena mereka betul-betul mendapat pelayanan sesuai dengan standar. Selain itu mereka juga lebih leluasa untuk mengungkapkan penyakit yang mereka derita. 
 
Untuk diketahui, puskesmas Alak memberikan layanan kepada masyarakat selama 6 hari dalam seminggu terhitung senin-sabtu. Kunjungan pasien ke Puskesmas Alak ini, berbeda-beda di setiap poli. Di poli laki-laki dan perempuan misalnya rata-rata kunjungan pasien per hari berkisar antara 15-25 orang, sedangkan poli lansia  berkisar antara 15-50 orang per hari. Dari banyaknya jumlah pengunjung ini dapat dibayangkan betapa sibuknya tenaga kesehatan yang bertugas di masing-masing poli. Walaupun petugas sangat sibuk, tetapi mereka mengaku senang menjalani rutinitas seperti ini karena mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang penyakit yang diderita pasien.  Dengan banyaknya kasus penyakit yang ditangani membuat petugas lebih banyak meluangkan waktu untuk melakukan analisa yang lebih mendalam tentang jenis penyakit, obat-obatan yang cocok, serta bagaimana melakukan terapi yang benar dan tepat. Dengan demikian, ilmu yang dimiliki oleh petugas akan terus terasah.
 
Namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada kendala dalam memberikan pelayanan. Peralatan dalam poli masih terbilang sangat minim. Di poli laki-laki dan perempuan hanya tersedia 1 meja dan 3 buah kursi untuk perawat, dokter dan 1 orang pasien, . Belum ada tempat tidur dalam ruangan poli, sehingga jika ada pasien yang memerlukan tindakan medis, petugas poli harus membawa ke ruang tindakan umum untuk diperiksa, setelah itu baru dibawa kembali ke poli. Proses penanganan seperti ini, bisa saja membuat pasien menjadi kurang nyaman karena harus bolak-balik dari satu poli ke poli lainnya.
 
Kendala lain yang dihadapi oleh Puskesmas Alak adalah tenaga dokter yang bertugas di poli adalah tenaga tidak tetap. Karena merupakan tenaga tidak tetap, maka masa kerja dokter hanya 4 bulan saja. Setelah itu, akan dilakukan pergantian tenaga dokter yang baru. Bahkan pernah terjadi, setiap bulan ada penggantian tenaga dokter.  Selain itu, keterbatasan obat-obatan juga menjadi kendala tersendiri. Petugas poli laki-laki mengatakan ada beberapa jenis obat seperti antibiotic, salaf dan sirup yang sangat dibutuhkan, namun hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas, sehingga kadang mereka hanya memberikan resep kepada pasien untuk membeli sendiri di apotik.
 
Melihat berbagai persoalan diatas, sudah sepantasnya Puskesmas Alak mendapat perhatian dari berbagai pihak terutama pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelayanan kesehatan seperti pemerintah, NGO dan Corporate Social Responsibility (CSR).
 
 
(Rita Kefi - Mentor reformasi Puskesmas Kota Kupang)