Pengarusutamaan gender yang selanjutnya disebut PUG adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan  program atau kegiatan pembangunan. Data gender dan anak menjadi elemen pokok bagi terselenggaranya pengarusutamaan gender (PUG) dan pengarusutamaan hak anak (PUHA).

Data gender dan anak dapat membantu para pengambil keputusan untuk: 
  1. Mengidentifikasi perbedaan (kondisi / perkembangan) keadaan perempuan dan laki-laki, termasuk anak, dalam dimensi tempat dan waktu .
  2. Mengevaluasi dampak dari intervensi pembangunan terhadap perempuan dan laki-laki; dan
  3. Mengidentifikasi masalah, membangun opsi dan memilih opsi yang paling efektif untuk kemaslahatan perempuan - laki-laki yang responsif terhadap masalah, kebutuhan, pengalaman perempuan dan laki-laki.
 
Pada tanggal 14 – 15 Juli 2011, dengan dukungan AIPMNH Kota Kupang Bagian Pemberdayaan Perempuan melaksanakan Lokakarya Data Gender dan Anak menurut Kepmen PP No. 06 Tahun 2009 dengan mengundang beberapa SKPD dan LSM terkait di wilayah Kota Kupang. Dari hasil diskusi kegiatan ini muncul rekomendasi sebagai rencana kerja tindak lanjut untuk mulai mengimplementasikan pencatatan data terpilah. Hasil pencatatan data terpilah di Kota Kupang inilah yang akhirnya di dokumentasikan melalui penerbitan Buku Profil Gender dan Anak di Kota Kupang Tahun 2012.
 
Dalam analisa terhadap data terpilah yang sudah terkumpul, ada beberapa isu pembangunan perempuan dan anak di Kota Kupang sebagai berikut :
 
  1. Masih diperlukan adanya perhatian pemerintah dan masyarakat tentang kondisi ibu melahir¬kan. Jumlah kematian ibu melahirkan di Kota Kupang mengalami kenaikan cukup signifikan, yaitu delapan kasus pada tahun 2007, tahun 2008 turun menjadi enam kasus, kemudian naik pada tahun 2012 yaitu, menjadi 8 kasus. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan ke¬hamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi jumlah kematian ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi;
  2. Selain kasus kematian ibu melahirkan, aspek lain yang tidak kalah penting adalah adanya kasus kematian bayi. Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan ke¬matian bayi;
  3. Kecukupan gizi balita sangat penting bagi kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas selama hidup, karena kekurangan gizi pada balita dapat mengakibatkan rentan terhadap penyakit dan terganggu pertumbuhannya. Kondisi di lapangan masih ditemukan beberapa kasus balita yang memiliki gizi lebih, gizi kurang dan gizi buruk;
  4. Program Keluarga Berencana yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak awalnya hingga sekarang telah banyak melibatkan peran perempuan. Sebagian besar alat KB khusus dipe-runtukkan bagi perempuan seperti MOW, AKDR/IUD, suntik, susuk dan pil. Partisipasi laki-laki (suami) dalam mengikuti program KB masih perlu ditingkatkan, karena masih sedikit yang menjadi akseptor KB dengan menggunakan kondom atau melakukan Metode Operasi Pria (MOP=Vasektomi.
  5. Rata-rata partisipasi sekolah di Kota Kupang, dari semua kelompok umur, partisipasi sekolah anak laki-laki lebih besar dibandingkan dengan partisipasi anak perempuan;
  6. Jumlah tenaga kerja yang ditempatkan pada tahun 2007 hingga 2011 lebih banyak perem¬puan dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja perempuan lebih disu¬kai oleh pasar, kedepan perlu dipersiapkan secara sistematis peningkatan kualitas tenaga kerja perempuan dan perlindungannya dalam suatu produk hukum;
  7. Jumlah TKI pada Angkatan Kerja Antar Negara (AKAN) di Kota Kupang sebagian besar perempuan;
  8. Anggota legislatif periode 2009-2014 di Kota Kupang, sejumlah 93,23 % laki laki dan sisanya atau 6,76 % sejumlah 90,24 % laki-laki dan sisanya 9,75 % adalah perempuan. Meskipun jumlah perempuan mengalami kenaikan, tetapi dari periode ke periode, jum¬lah perempuan di parlemen belum signifikan terwakili atau belum memenuhi kuota 30%, sehingga merupakan pengalaman dan pelajaran yang perlu diperbaiki untuk keterwakilan perempuan di parlemen;
  9. Pejabat eselon baik eselon 2, eselon 3 dan eselon 4 di lingkungan Pemerintah Kota Kupang yang berjenis kelamin perempuan, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki.
  10. Perempuan seringkali menjadi korban kekerasan, baik kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran, pelecehan seksual, perkosaan, bahkan kehami¬lan yang tidak dikehendaki. Kasus kekerasan perempuan dan anak merupakan fenomena gunung es. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun ke tahun senantiasa menunjukkan peningkatan, tetapi belum seluruhnya dapat dilaporkan.
 
 Klik  Untuk mendownload  Profil Data Gender dan Anak di Kota Kupang Tahun 2012

Bukan Facebooker..?? Tulis Komentar anda disini


Security code
Refresh