×

Warning

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

" Korupsi merupakan masalah besar dihadapi bangsa kita, hampir  setiap media memberitakan berbagai kasus Korupsi yang terjadi di tanah air kita setiap hari, mulai dari ibu kota negara hingga desa terpencil kasus Korupsi sering terjadi. Sehingga bisa dikatakan kasus Korupsi terjadi hampir setiap menit di negeri  ini dan di dunia negeri kita jadi terkenal sebagai negara yang indeks korupsinya termasuk tinggi, tentunya hal ini tidak menyenangkan bagi kita sebagai warga negara Indonesia."



Korupsi sebenarnya bukan hal baru bagi negeri kita meski disadari bahwa Korupsi telah membawa keterpurukan pada bangsa ini, namun tetap saja bangsa kita tidak dapat mencegah terjadinya Korupsi. Berbagai upaya dilakukan oleh para penegak hukum untuk memberantas korupsi di negeri kita, namun seperti berlomba makin canggih penegak hukum beraksi memberantas Korupsi makin canggih juga para Koruptor beraksi dan entah sampai kapan kejar mengejar ini akan berakhir.

Sekarang mari kita lihat apa hubungannya antara Korupsi dan anak, diakui atau tidak salah satu penyebab anak mengalami gizi buruk adalah Korupsi, dimana dana pembangunan yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dikorupsi oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Tulisan ini tidak membahas tentang hal tersebut, tetapi akan melihat bagaimana kita mengupayakan agar kita bisa memutus mata rantai korupsi sehingga tidak menjangkiti anak-anak kita yang akan menjadi pewaris  generasi mendatang.

Masyarakat kita memang terkenal sangat tidak taat aturan contoh sederhana, jika Anda berdiri di perempatan  lampu merah  pasti  ada saja yang melanggar lampu merah ketika Polisi tidak ada disana. Mengapa ini terjadi? Kita memang tidak terbiasa atau terlatih untuk mentaati aturan, coba ingat saat Anda duduk di sekolah dasar, Anda dan teman-teman sekelas akan membuat gaduh saat guru tidak ada di kelas karena kita hanya dilatih untuk takut kepada guru tetapi tidak dilatih untuk taat terhadap aturan bahwa di kelas kita harus tenang, ada atau tidak ada guru.

Guru dan orangtua kita tanpa sadar mengajarkan kepada kita bahwa seseorang  lebih kuat, lebih besar, lebih tahu dan lebih berkuasa boleh  melakukan apa saja terhadap orang lain yang lebih “lemah” termasuk mengambil hak mereka. Coba ingat saat Anda masih di sekolah  dan bayangkan guru Anda, mereka adalah orang-orang yang sangat berkuasa, bahkan mungkin masih terjadi hingga saat ini, dimana guru dan juga orangtua kita selalu memutuskan sesuatu sesuai keinginan mereka dan menganggap kita masih kecil dan sama sekali tidak tahu hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan kita. Sebagai anak tidak pernah kita dilatih untuk terlibat dalam pengambilan keputusan atau belajar mendengarkan pendapat orang lain.

Cara kita mendidik anak sangat kental dengan nuansa kekerasan dan sangat tidak demokratis  akan menciptakan generasi yang tidak menghargai hak-hak orang lain dan semaunya mengambil hak orang lain tanpa peduli akan akibat yang ditimbulkan. Hal ini akan mendorong tumbuhnya sikap yang sama saat anak-anak kita menjadi dewasa dan memiliki kekuatan atau berkuasa. Sehingga tidak mengherankan kalau banyak orang dewasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan  melakukan hal yang sama sebagai akibat dari didikan yang mereka terima saat  kecil dulu.

Salah satu masalah besar di negeri ini adalah tidak adanya kepastian hokum yang sangat merugikan semua pihak terutama masyarakat, namun hal ini terus saja terjadi. Mengapa bisa demikian? Hal ini adalah akibat dari cara guru memperlakukan kita.  Sekali lagi mohon Anda ingat lagi masa sekolah, saat Anda tidak mengerjakan pekerjaan rumah, guru Anda akan menyuruh Anda untuk lari keliling sekolah, menghormat bendera hingga dua jam, berlutut selama jam pelajaran atau menyuruh Anda menulis 100 kali atau hukuman lain yang tidak ada hubungannya dengan perbuatan kita. Para guru dan juga orangtua kita  seringkali tidak mendidik kita dengan menerapkan konsekwensi logis (logical consequences) yakni, konsekwensi yang masuk akal dan menghargai hak dan martabat manusia yang kita terima sebagai akibat dari perilaku kita.

Akibatnya kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak terikat pada konsekwensi logis yang bisa kita terima sebagai akibat perilaku kita. Misalnya jika kita melanggar lampu merah mestinya  kita  ditilang dan dikenakan hukuman sesuai aturan yang berlaku, tetapi yang terjadi adalah konsekuensi yang kita terima bisa tidak masuk akal, misalnya membayar sejumlah uang tanpa melalui prosedur resmi sebagai akibat dari perilaku kita tadi.      

Salah satu cara ampuh untuk mencegah Korupsi di negeri kita adalah mendidik anak-anak kita dengan cara-cara yang positif, seperti menerapkan konsekuensi logis jika mereka berperilaku menyimpang atau sering kita sebut nakal. Menghargai hak-hak mereka dengan tidak melakukan kekerasan kepada anak dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan (living values) yang berorientasi pada hak asasi manusia dan ini akan menumbuhkan pribadi-pribadi yang menghargai harkat dan martabat manusia. Sehingga saat mereka memiliki kekuatan dan berkuasa mereka akan menjalankan kekuasaan yang diembannya dengan cara-cara yang positif.

Melibatkan anak-anak kita dalam pengambilan keputusan serta mendengarkan pendapat mereka baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat merupakan cara terbaik untuk menciptakan masyarakat yang menghargai sesama, mau mendengarkan orang lain serta belajar untuk berbeda pendapat dan menyelesaikan masalah dengan berdiskusi.

Hal-hal yang kelihatan sederhana diatas merupakan latihan yang baik bagi anak-anak kita dan sangat berguna bagi mereka untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik dalam menjalani kehidupan mereka.  Harus kita sadari bahwa mengubah perilaku kita yang telah dewasa akan jauh lebih sulit dibanding saat masih kanak-kanak, karena itu sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab untuk mendidik anak-anak kita,  marilah kita menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak kita agar kelak mereka tidak tumbuh menjadi calon Koruptor di masa yang akan datang.  (Zainal Asikin -Fasilitator forum Anak Kota Kupang)

Artikel terkait :
Pojok Ramah Anak di Puskesmas Pasir Panjang
Positive Discipline, mendisiplinkan anak tanpa teriakan dan pukulan