×

Warning

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

 

Pada bulan September 1994 di Kairo, 184 negara berkumpul untuk merencanakan suatu kesetaraan antara kehidupan manusia dan sumber daya yang ada. Untuk pertama kalinya, perjanjian internasional mengenai kependudukan memfokuskan kesehatan reproduksi dan hak-hak perempuan sebagai tema sentral. Konferensi Internasional ini menyetujui bahwa secara umum akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi harus dapat diwujudkan sampai tahun 2015. Tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan, pelaksana-pelaksana program serta para advokator adalah mengajak pemerintah, lembaga donor dan kelompok-kelompok perempuan serta organisasi non pemerintah lainnya untuk menjamin bahwa perjanjian yang telah dibuat tersebut di Kairo secara penuh dapat diterapkan di masing-masing negara.
 
Namun di Indonesia partisipasi Perempuan yang sangat rendah dalam pengambilan Keputusan di seluruh tingkatan merupakan salah satu masalah kunci yang menghambat kemajuan kearah kesetaraan gender yang mencakup segala bidang termasuk bidang kesehatan diantaranya hak kesehatan reproduksi.
 
Berbagai program untuk menurunkan AKI telah lama digulirkan termasuk di Kota Kupang. Dari mulai Gerakan Sayang Ibu, Suami Siaga hingga Kelurahan Siaga yang saat ini tengah dikembangkan di berbagai kota. Dalam program-program tersebut , sebenarnya hal yang penting untuk mendukung perbaikan kesehatan ibu adalah mengubah paradigma (pola pikir) lama yang beranggapan bahwa persalinan adalah kodrat dan urusan personal perempuan yang harus ditanggung sendiri. Namun bertolak belakang dengan anggapan itu, di masyarakat berkembang tradisi pengambilan keputusan yang berada di tangan suami dan mertua. Akibatnya, perhatian terhadap ibu hamil kurang memadai dan pada saat ibu hamil memerlukan tindakan genting untuk tindakan medis segera proses pengambilan keputusan terlambat karena suami / mertua tidak ada.  
 
Oleh karena itu untuk lebih mendorong proses merubah paradigma tersebut Bappeda Kota Kupang mendorong dilakukannya kegiatan diskusi kampung tentang peran perempuan dalam pengambilan keputusan, khususnya menyangkut Hak Kesehatan Reproduksinya melalui Program AIPMNH. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagaimana mendesain proses diskusi bersama masyarakat secara partisipatif supaya tidak terjebak ke dalam ceramah satu arah saja. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa untuk ‘merubah perilaku’, masyarakat harus didorong untuk mendiskusikannya sehingga ada tukar pengalaman diantara mereka. Pada titik inilah proses pembelajaran orang dewasa ( andragogi ) bisa terwujut. 
 
AIPMNH memberikan dukungan Kegiatan Diskusi Kampung Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan oleh Bagian Pemberdayaan Perempuan. Lewat kegiatan ini telah dihasilkan Panduan Diskusi Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan terkait dengan Hak Kesehatan Reproduksi. Ada 3 substansi yang dibahas dalam panduan ini yaitu : (1).Peran Perempuan Dalam Pengambilan Keputusan ;(2).HakKesehatan Reproduksi ; (3).Pengambilan Keputusan Untuk Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Aspek Gender. 
 
Panduan diskusi kampung ini telah diujicobakan sejak tahun 2010 lalu, dalam perkembangannya untuk lebih melengkapi panduan tersebut, pada Rencana Kerja Kemitraan AIPMNH di Kota Kupang tahun 2012 dilakukan juga Diskusi Kelompok MPS (Menuju Persalinan Selamat ) dimana salah satu titik beratnya adalah mendorong mitra untuk mendesain kegiatan melalui uji coba panduan diskusi secara partisipatif. Selanjutnya diharapkan supaya panduan ini bisa menjadi salah satu referensi untuk pelaksanaan kegiatan kegiatan serupa di Kota Kupang dengan memanfaatkan sumber – sumber dana yang ada baik dari APBD maupun sumber – sumber lain.
 
Link Terkait