Tidak perlu berpanjang lebar memperkenalkan Kapten William Bligh. Namanya menjadi terkenal sejak ia diusir dari kapal Bounty, menyusul pemberontakan yang dilakukan awak kapalnya pada April 1789. Menggunakan kapal barkas terbuka berukuran 23 kaki (7 meter), Bligh berlayar ke arah barat melintasi Samudera Pasifik menuju pesisir timur Australia, diteruskan ke utara dan (berbelok) ke barat menuju daerah koloni Belanda di pulau Timor yakni Kupang. Setelah petualangannya yang merupakan salah satu prestasi besar yang pernah tercatat dalam sejarah pelayaran dunia, ia dan ke-18 awak kapal yang diusir bersamanya dan Bounty tiba di Kupang pada 14 Juni 1789. Mereka diterima dengan baik oleh pemerintah Belanda (yang berkuasa saat itu).
 
Bligh, yang tipikal karakternya sama dengan para navigator berkebangsaan Inggris kenamaan lainnya di masa itu seperti Kapten James Cook dan Letnan Matthew Flinders, merupakan orang cukup cermat mengamati dan mencatat dengan teliti tentang kejadian sehari-hari yang ia temui.
 
Kisah ini berawal saat mereka pertama kali melihat pulau Timor, dilanjutkan dengan cerita mengenai kembalinya sekelompok dari mereka yang pimpin oleh seorang mandor kapal setelah pendaratan pertama di sebuah desa kawasan Timor. Kelompok ini diutus untuk memastikan adanya lokasi permukiman koloni Belanda dipulau tersebut.
 
Jum’at tanggal 12. Pada pukul 3 pagi, dengan rasa gembira yang meluap-luap, kami menemukan daratan Timor yang terbentang dan barat-baratdaya hingga barat-barat laut. Saya sedang berlayar dengan bantuan angin dan utara-timurlaut hingga matahani terbit, ketika daratan tampak pada arah baratdaya-selatan hingga timurlaut-utara. Jarak kami dan pantai sekitar 2 liga (11 kilometer).
 
Tak sulit bagi saya melukiskan perasaan gembira yang kami rasakan saat akhirnya kami melihat daratan yang luar biasa tersebut ada di sekeliling kami. Yang tak dapat karni percaya adalab bahwa hanya berbekal sebuah kapal terbuka dan sedikit perbekalan kami berhasil mencapai pantai Timor dalam 41 hari setelah meninggalkan Tofoa, yang berdasarkan catatan dan perhitungan kami berjarak sekitar 3.618 mil (6.700 kilometer) jauhnya dan meskipun kondisi kami terbilang sangat mengenaskan, tidak seorang pun meninggal dalam pelayaran.
 
Saya sudah menyinggung bahwa saya tidak tahu di mana lokasi koloni Belanda berada. Tapi menurut perkiraan saya, permukiman itu terletak pada bagian baratdaya dari pulau ini Karena itulah, setelah matahari terbit, saya segera bergerak di sepanjang pantai ke arah selatan-baratdaya, yang memang harus saya lakukan karena arah angin tidak memungkinkan kami untuk kami berlayar ke arah timurlaut tanpa kehilangan banyak waktu.
 
Siang hari membantu kami untuk dapat melihat pulau tersebut dengan lebih baik yang terdiri dan hutan dan tanah lapang yang terletak silih berganti daerah pedalamannya berupa pegunungan, namun pantainya terletak pada daerah rendah. Menjelang siang hari, daerah pesisir semakin meninggi (pasang surut menyebabkan daerah yang sebelumnya berada di bawah air muncul ke permukaan) dengan sejumlah tanjung yang sungguh luar biasa. Kami sangat senang dengan sebagian besar pemandangan daerah ini yang menunjukkan sejumlah lahan pertanian dan tempat-tempat yang indah. Sayangnya kami hanya menemukan beberapa gubuk kecil. Itu sebabnya saya menyimpulkan bahwa tidak ada permukiman Eropa pada bagian lain pulau ini. Sebagian daerah ini tidak memiliki pantai, hal ini menyulitkan kami untuk mendarat…
 
Dengan jatah perbekalan berupa roti dan air seperti biasanya Untuk makan malam, saya membagi burung yang telah kami tangkap malam sebelumnya. Saya menuang sedikit anggur untuk dokter bedah dan Lebogue (salah seorang awak dan Bounty yang bertugas untuk membuat atau memperbaiki layar, yang diusir bersama Bligh).
 
Angin segar bertiup dan arah timur dan timur-tenggara dengan cuaca yang tidak menentu. Sepanjang siang hari, kami melanjutkan penjalanan di sepanjang pantai rendah yang ditumbuhi oleh begitu banyak pohon palem yang disebut palem kipas karena jajaran daunnya menyerupai kipas.
 
Namun kami tidak menemukan tanda-tanda adanya lahan pertanian.Tak tampak pula keindahan alam seperti yang dimiliki oleh wilayah-wilayah di daerah timur. Daerah ini tidak terlalu luas kanena pada saat matahari terbenam keadaan kembali sunyi dan saya melihat beberapa tiang asap membumbung dari daerah di mana para penduduk sedang membersihkan dan mengelola lahan mereka. Saat ini kami sudah menempuh jarak sejauh
 
25 mil (40 kilometer) ke arah barat-baratdaya sejak siang hari tadi dan berada 5 mil (8 kilometer) ke arah barat dari titik terendah, yang pada siang harinya saya bayangkan sebagai bagian paling selatan dan pulau ini. Pantai di sini membentuk cekungan dengan daratan rendah di bagian teluknya yang menyerupai sebuah kepulauan (terpisah)….
 
Saya baru saja selesai mencatat semua itu ketika saya melihat kepala kelasi dan si penembak meriam kembali ke kapal bersama beberapa penduduk lokal. Hal ini membuat saya tidak ragu lagi akan kesuksesan yang berhasil kami capai dan yakin bahwa harapan kami akan segera terpenuhi. Mereka membawa lima orang Hindia, sekaligus memberitahukan bahwa mereka juga menemukan dua keluarga dimana para wanitanya memperlakukan mereka dengan keramahtamahan seperti orang-orang Eropa. Dari orang-orang ini saya mengetahui bahwa Gubernur tinggal di sebuah kota yang dinamakan Coupang (Kupang) yang terletak cukup jauh ke arah timurlaut. Saya memberi isyarat kepada salah satu penduduk lokal untuk naik ke kapal dan menununjukkan jalan menuju Kupang serta mengisyaratkan saya akan membayar jerih payahnya. Pria itu pun langsung setuju dan ikut bersama ke kapal.
 
Orang-orang ini memiliki kulit berwarna kuning kecokelatan, berambut hitam panjang dan suka sekali mengunyah pinang. Pakaian yang mereka kenakan berupa kain persegi yang dibebat di sekeliling pinggang, pada lipatannya mereka selipkan sebuah pisau besar (parang); sebuah selendang digunakan sebagai penutup kepala; dan selembar lagi diikat pada keempat ujungnya dan disampirkan di bahu yang berfungsi sebagai kantung tempat tempat membawa perlengkapan menyirih. Mereka memberi kami beberapa potong kura-kura kering dan beberapa buah jagung lokal. Kami lebih menyukai
Jagung karena daging kura-kura yang kami peroleh sangat keras. Mustahil memakan daging kura-kura itu tanpa merebusnya terlebih dulu. Mereka menawarkan diri untuk membawakan kami makanan lain jika saya bersedia menunggu. Tetapi walaupun sang nakhoda bensedia menunggu, saya memaksa agar kami segera berlayar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 ketika akhirnya kami kembali mengangkat sauh.
 
Dengan arahan sang nakhoda, kami berlayar tidak jauh dan pantai  timur. Tetapi begitu malam tiba, angin berhenti bertiup. Kami terpaksa mendayung untuk meneruskan perjalanan. Sejujurnya, saya merasa terkejut karena kami bisa memanfaatkan dayung tersebut. Pada pukul 10, kami berhasil melaju walaupun dengan kecepatan pelan. Tak lama kemudian saya melempar sauh dan untuk pertama kalinya saya membagikan roti dua kali lebih hanyak juga sedikit anggur untuk setiap orang.
 
Minggu tanggal 14. Pada pukul satu dini bari, setelah menikmati tidur ternyenyak dan terlama dan yang pernah dirasakan oleh seluruh orang di kapal, kami angkat sauh melanjutkan berlayar pada permukaan air yang tenang dengan pantai timur sebagai acuan. Ketika saya menyadari bahwa kami telah kembali di laut lepas, tampak sebuah daratan terletak di arah barat, yang telah kami lewati merupakan sebuah pulau yang oleh nakhoda kami disebut pulau Samow (Semau). Bagian utara selat ini lebarnya sekitar 1,5-2 mil (2-3 kilometer) dan pada ketinggian sekitar 10 depa (18 meter) saya sudah tidak bisa melihat dasar laut lagi.
Laporan mengenai terdengarnya dua tembakan meriam memberikan.harapan baru kepada semua orang. Tak lama kemudian, kami berpapasan dengan sebuah kapal layar besar lengkap dengan dua tiang layar utama dan sebuah kapal layar yang sedang berlabuh di bagian timur. Kami berusaha memanfaatkan angin, namun terpaksa menggunakan dayung kembali karena dengan berjalannya waktu kami mulai kehilangan kecepatan. Kami masih masih berlayar dekat garis pantai dan terus mendayung hingga pukul empat,
 
Tepat ketika saya kembali melempar jangkar dan mulai membagikan roti dan anggur untuk semua orang. Setelah beristirahat sejenak, kami angkat jangkar dan kembali mengayuh dayung hingga menjelang matahari terbit. Sewaku kami kembali berlabuh tidak jauh dan benteng dan sebuah kota kecil nakhoda memberitahukan bahwa kami telah sampai di Kupang.
 
Di antara barang-barang yang dibawa oleh kepala kelasi dalam sekoci sebelum kami meninggalkan kapal, terdapat seikat bendera sinyal yang digunakan untuk menandai kedalaman air. Dan bendera-bendera inilah, sepanjang perjalanan kami membuat lambang kecil, yang saya kibarkan pada tali layar utama, sebagai tanda bahwa kami memerlukan bantuan. Saya pikir tidak baik mendarat tanpa mendapatkan izin terlebih dulu.
 
Tak lama setelah fajar merekah, seorang serdadu meminta kami merapat.Saya bersama sekumpulan orang-orang Hindia segera turun. Saya cukup terkejut karena kami bertemu dengan seorang pelaut Inggris yang bekerja pada salah satu kapal yang sedang berlabuh di pantai. Si pelaut mengatakan bahwa  kaptennya adalah orang nomor dua di kota itu. Informasi itulah yang membuat saya berharap bisa bertemu dengan beliau, terlebih kabarnya sang Gubernur sedang jatuh sakit dan tidak bisa ditemui saat ini.
 
Kapten Spikerman menyambut kedatangan saya dengan keramahan yang luar biasa. Saya pun menceritakan kesulitan yang sedang kami hadapi dan memohon supaya ia bersedia menolong para awak kapal yang datang bersama saya tanpa ditunda-tunda lagi. Ia langsung memberikan arahan agar awak kapal segera dijamu di rumahnya sendiri dan secara pribadi, ia segera pergi menghadap Gubernur untuk membuan janji; menanyakan pukul saya diperbolehkan menemuinya. Sang Gubernur ternyata telah ternayata telah menemukan waktunya. Ia bersedia menemui saya pada pukul sebelas.
 
Saat ini, saya sangat berharap para awak kapal dapat segera turun ke darat  walaupun tak banyak dan mereka yang masih sanggup berjalan. Meskipun demikian, mereka masih sanggup berjalan. Meskipun demikian tetap dibantu masuk ke dalam rumah untuk sarapan.
 

Manfaat lebih tali tambang yang terikat di haluan kapal mungkin jarang diketahui kecuali pada penggambaran dua kelompok manusia yang pada saat ini sedang saling memperkenalkan diri. Seorang pengamat biasa akan hingung mana yang harus lebih dikagumi; mata orang-orang kelaparan yang mendadak bersinar penuh kelegaan atau rasa ngeri yang tampak pada wajah-wajah tuan rumah saat melihat begitu banyak sosok yang menyerupai hantu yang jika saja tidak diketahui apa penyebabnya, orang akan berpikii bahwa ekspresi itu lebih disebabkan oleh rasa takut ketimbang kasihan. Tubuh kami hanya tinggal tulang dan kulit. Kaki dan tangan kami penuh luka. Pakaian yang kami kenakan juga sudah compang camping. Dalam kondisi ini, dengan beruraia airmata bahagia dan rasa terima kasih yang besar, orang-orang Timor menerima kami dengan perasaan campur aduk antara ngeri, terkejut dan kasihan menjadi satu.
 
Walaupun sedang sakit keras, Sang Gubernur, Tuan William Adrian Van Este, rupanya sangat penasaran dengan kondisi kami. Sayapun diminta menghadap sebelum waktu yang telah ditentukan. Ia menerima saya dengan penuh rasa belaskasih dan bersikap sebagaimana seseorang yang benar-benar ramah dan baik hati. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas musibah yang menimpa kami. Meski begitu, ia merasa bahwa kejadian ini menjadi berkah terbesar dalam hidupnya karena kami sekarang berada di bawah perlindungannya. Walaupun kini ia sangat lemah sehingga tidak turun tangan membantu seorang teman secara langsung, ia tetap memberikan perintah yang saya yakin akan banyak membantu kami memasok kebutuhan yang kami perlukan.
 
Sebuah rumah akan segera disiapkan sebagai tempat tinggal untuk saya dan anakbuah saya. Gubernur mengatakan mereka dapat tinggal di rumah sakit atau di atas kapal Kapten Spikerman, yang ditambatkan di pelabuhan. Dengan berat hati ia menyampaikan bahwa Kupang tidak bisa menyediakan komodasi yang lebih baik bagi kami. Rumah yang dikhususkan untuk saya merupakan satu-satunya rumah yang tidak dihuni saat ini sedangkan situasi yang sedang dialami beberapa keluarga yang tinggal di kota tidak memungkinkan mereka menampung orang asing. Jadi untuk sementara in sampai semua masalah bisa diatur dengan baik, makanan untuk anakbuah saya akan disiapkan di rumahnya.
 
Pada saat kembali ke rumah Kapten Spikerman, saya lega mengetahui bahwa anakbuah saya mendapatkan pertolongan yang mereka perlukan. Dokter bedah telah mengobati luka-luka mereka. Mereka juga bisa mandi, bahkan mendapatkan beberapa hadiah persahabatan berupa pakaian.
 
Saya minta diantarkan ke rumah yang disediakan untuk saya yang ternyata sudah siap huni lengkap dengan pelayan. Rumah itu terdiri sebuah aula, dengan ruangan disetiap ujungnya. Rumah tersebut di kelilingi serambi dengan ruangan terpisah di salahsatu sudutnya dan pintu yang menghubungkan bagian belakang rumah dengan jalan. Karena itulah saya bersikeras agar semua anakbuah saya dibiarkan tinggal di rumah itu daripada ditempatkan terpisah.
 
Saya pun membagi rumah tersebut sebagai berikut: saya mendiam satu kamar khusus, kamar lain akan digunakan nakhoda, dokter bedah Tuan Nelson dan si penembak meriam, para perwira akan tinggal di loteng sedangkan anakbuah kapal akan tinggal di ruangan terpisah. Aula akan menjadi ruang pertemuan para perwira, sedangkan serambi belakang adalah tempat berkumpul semua anakbuah kapal. Saya kemudian menyampaikan pembagian ini kepada Gubernur. Hasilnya, ia segera mengirimkan sejumlah kursi, meja dan bangku beserta selimut dan perlengkapan lain yang diperlukan oleh setiap orang.
 
Ketika berpamitan, Sang Gubernur berharap saya akan memberitahunya segala sesuatu yang saya butuhkan. Sayangnya, hanya pada saat tertentu saja ia sanggup melawan penyakitnya atau bisa melakukan sesuatu. Sang Gubernur terserang penyakit yang belum ada obatnya dan saat ini be1iau sedang sekarat. Atas pertimbangan itulah, saya kemudian menyelesaikini semua transaksi dengan Tuan Timotheus Wanjon, menantu Gubernur. merupakan orang terpenting kedua di tempat mi. Ia telah berusaha sekuê tenaga untuk membuat kami selalu merasa nyaman. Saya menyadari bahwa sebelumnya saya telah menerima informasi yang salah dan pelaut yan menyatakan bahwa Kapten Spikerman adalah pemegang tampuk kekuasai kedua setelah Gubernur.
 
Pada siang hari, makan malam sudah diantarkan ke rumah dalam porsi besar. Bahkan untuk orang yang biasa dengan makanan berlimpah bisa-bisa menjadi kekenyangan. Meski demikian, saya yakin hanya sedikit orang yang bisa menahan diri dalam kondisi seperti itu dibandingkan dengan anakbuah saya. Yang paling saya khawatirkan adalah bahwa mereka akan terlalu banyak memakan buah karena sekarang sedang musim buah-buahan.
 
Setelah yakin bahwa semua orang telah menikmati makanan yan berlimpah mi, saya pun bersantap dengan Tuan Wanjon. Tetapi saya tidak begitu nafsu makan. Saya pikir yang lebih saya butuhkan untuk memulihkan kondisi saat ini adalah istirahat dengan suasana yang tenang. Karena itu saya segera mohon diri dan masuk ke dalam kamar yang ternyata telah di1engkapi dengan segala perabotan untuk memastikan kenyamanan saya. Narnut bukannya beristirahat, saya justru mengenang kemalangan yang baru saja kami lalui dan tentang kegagalan ekspedisi. Tetapi di atas segalanya, saya sangat bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kami kekuatan untuk saling mendukung dan mengatasi setiap cobaan yang begitu berat. Bahkan pada akhirnya memungkinkan saya menyelamatkan 18 nyawa orang-orang yang menjadi tanggungjawab saya.
 
Pada masa sulit, komandan akan menanggung beban terbesar. Dari peristiwa yang baru saja kami alami, hal tersebut setidaknya bukanlah masalah utama saya. Saya menguatkan tekad melanjutkan pelayaran meski anakbuah saya terus memohon agar mereka diperbolehkan mendapat makan lebih - yang dengan berat hati harus saya tolak. Pentingnya penghematan dalam pembagian persediaan harus dipertegas, yakni dengan menolak permohonan mereka dan tidak pernah sekali pun tergoda melanggar perjanjian yang telah kami sepakati bersama. Dengan pembagian jatah seperti yang karni lakukan selama ini, saat tiba di Kupang kami masih memiliki persediaan makanan yang cukup untuk 11 hari ke depan. Dan seandainya kami tidak berhasil menemukan permukiman Belanda di Timor, saya yakin kami dapat meneruskan pelayaran ke Jawa karena semua kebutuhan yang kami perlukan masih mencukupi.
 
Kesulitan lain yang harus saya hadapi adalah tingkah orang-orang yang bebal. Jika saya tidak bertindak cepat, anakbuah saya akan langsung merapat di pantai begitu kami tiba di pulau Timor tanpa memikirkan bahwa mendarat di wilayah asing, yang jauh dan daerah permukiman bangsa Eropa, sama berbahayanya dengan berada dm antara penduduk Pribumi Hindia Belanda yang lain. Seandainya kami tidak menghemat jatah, jumlah persediaan makanan yang tersedia di kapal hanya akan cukup untuk konsumsi selama lima hari. Para perompak mungkin menyimpulkan bahwa kami tidak akan menemukan tempat pelarian lain selain Friendly Island (sebutan yang yang diberikan Kapten Cook untuk kepulauan Tonga). Kemungkinan, mereka mengira bahwa dengan keterbatasan bekal dan perlengkapan yang kami punya, tidak mungkin kami akan berusaha kembali ke negara asal kami-semustahil bahwa berita mengenai tindak kejahatan mereka bisa tendengar ke kampung halaman mereka.
 
Saya mulai mengenang kembali bagaimana nyawa kami terselamatkan di Tofoa karena suku-suku Hindia menunda penyerangan mereka. Betapa mereka dengan segala keterbatasan perbekalan, kami mampu mengarungi laut sejauh lebih dari 1.200 liga (6.667 kilometer) tanpa perlindungan dari cuaca buruk. Saya bersyukur bahwa di kapal terbuka dengan begitu banyak badai menerpa, kami tidak tenggelam dan tidak ada satu pun dan kami yang meninggal karena penyakit menular. Betapa kami sangat beruntung dapat melalui daerah-daerah tidak bersahabat tanpa insiden apa pun dan berhasil menemukan orang-orang terbaik dan paling bersahabat serta bersedia membantu kesulitan kami. Saya harus mengakui, ketika mengingat semua keberuntungan dan betapa kami terlepas dan keseluruhan masalah ini, ingatan akan rahmat yang begitu besar membuat saya sanggup menanggu dengan penuh kepasrahan dan kerelaan, kegagalan ekspedisi ini-walaupun saya sangat mendambakan keberhasilan. Tapi yang membingungkan, apakah keberhasilan ini mampu memenuhi harapan Yang Mulia sekaligus mereka yang pro kemanusiaan.
 
Berdasarkan pengalaman 16 hari pelayaran disertai hujan lebat turun hampir tiada hentinya, saya memiliki tips untuk menjaga kesehatan, Siapa saja yang menghadapi situasi semacam ini, celupkan pakaian ke dalam air laut dan kemudian memerasnya sesering mungkin begitu baju-baju basah kuyup oleh hujan—satu-satunya sumber air bersih yang ada. Saya yakin hal ini sangat membantu. Sebab, dengan cara itulah kami merasa seperti telah berganti pakaian kering lebih sering. Ada saat dimana kami harus melakukan hal ini hampir setiap waktu. Akibatnya pakaian menjadi compang-camping karena terlalu sering dipera kondisi basah baik akibat hujan atau pun percikan gelombang laut, kecuali beberapa hari sewaktu kami melewati pesisir New Holland (asal usul nama Australia).
 
Berkat pertolongan Tuhan, kami berhasil mengatasi kesulitan dan derita selama pelayaran yang paling berisiko ini. Kami berhasil mendarat dengan selamat di sebuah pelabuhan yang bersahabat, di mana segala kebutuhan dan kenyamanan telah disediakan.
 
Berkat perhatian dan kemurahan hati Sang Gubernur dan para bangsawan di Kupang, kami menerima berbagai bantuan. Tak Iama kemudian, kesehatan kami pun kembali pulih. Begitu sampai di sana, saya menyerahkan surat resmi yang berisi informasi hilangnya kapal “Bounty” kepada Gubernur. Kami pun memohon, atas nama Yang Mulia, agar bel segera menginstruksikan semua daerah koloni Belanda untuk menahan ka tersebut jika ia menampakkan diri. Bersama surat ini saya menyertakan daftar nama pemberontak.
 
Dalam salah satu kunjungan pertama saya menghadap Gubernur, juga mengajukan usulan supaya Nelson diizinkan pergi ke daerah pedala untuk meneliti tanaman yang tumbuh di sana. Permohonan ini langsung disetujui. Gubernur bahkan menawarkan bantuan; apa pun yang sekiranya yang diperlukan. Gubernur juga memastikan bahwa daerah pedalaman layak untuk diteliti karena daerah tersebut kaya tanaman langka dan tumbuhan obat-obatan. Sayangnya, tawaran ini tidak bisa saya manfaatkan. Nelson, scjak meninggalkan New Holland memang sudah dalam kondisi lemah, saat ini telah jatuh sakit akibat udara dingin karena lupa mengenakan baju hangat di cuaca dingin.
 
Untuk menjamin kedatangan kami di Batavia (Jakarta) sebelum armada keberangkatan ke Eropa pada Oktober, secara resmi saya mengutarakan niat menyewa kapal yang nantinya kami gunakan untuk berlayar ke Batavia. Sejumlah  tawaran berdatangan tetapi harganya tidak masuk akal. Akhirnya, saya memutuskan membeli sebuah sekunar (kapal layar bertiang dua) kecil di pelabuhan dengan panjang 34 kaki (10 meter). Setelah membayar 1.000 rix-dollar (sejenis koin dengan nilai sebesar 1 rix dolar=100 sen), saya menarik Resource--saya menamainya seperti nama sekuner milik Yang Mulia—keKarena daerah pesisir Jawa dikuasai perompak berperahu kecil, kami .i.a sekuner ini perlu dilengkapi persenjataan yang sesuai dengan ukuran kapal. Untuk hal ini, persahabatan dengan Tuan Wanjon sangat membantu. Ia memperbolehkan saya meminjam empat meriam putar kuningan, 14 senjata api kecil dan amunisi darinya. Saya bisa mengembalikan semua itu setibanya kami di Batavia.
 
Pada tanggal 20 Juli, saya kehilangan Tuan David Nelson. Ia meninggal karena demam tinggi. Saya sangat berduka atas meninggalnya pria jujur ini. Selama ini ia telah mengurus hal-hal yang menjadi tugasnya dengan cermat dan penuh perhatian. Demi memenuhi misi pelayaran ini, ia menyelesaikan segala sesuatunya sesuai rencana Ia sungguh berjasa dalam pelayaran ke sini (Timor). Dengan kesabaran dan keuletannya, ia banyak membantu saya selama perjalanan.
 
Tanggal 21 Juli. Hari ini sayar menghadiri pemakaman Tuna Nelson. Jenasahnya di usung 12 prajurit berseragam hitam dengan seorang pendeta berjalan di muka. Iring-iringan itu diikuti oleh saya sendiri, Wakil Gubernur, kemudian 10 orang bangsawan kota dan beberapa orang perwira dari kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan. Setelah barisan ini, baru giliran perwira-perwira dan anakbuah saya.
 
Untuk pembacaan doa pada upacara penguburan, jenazah dikebumikan ke belakang kapel pada tanah pemakaman yang memang disediakan khusus untuk orang-orang Eropa di Kota ini. Saya menyesal tidak bisa menaruh nisan di atas makamnya
 
Pelayaran ini adalah kedua Tuan Nelson ke lautan selatan. Sebelumnya, bangsawan Joseph Banks mengirimnya ke daerah itu untuk mengumpulkan tumbuhan, biji-bijian dan lain-lain dalam pelayaran terakhir Kapten Cook. Sekarang, setelah berhasil melalui begitu banyak kesulitan dan di tengah-tengah rasa syukur atas keselamatannya, ia tiba-tiba berpulang.
 
Sekuner kami sedang diisi perbekalan dan disiapkan untuk berlayar, Pada tanggal 20 Agustus, saya berpamitan pada penduduk Kupang yang yang ramah bersahabat lalu segera berangkat. Kami berlayar pada sore hari, mengikuti sekuner di iringi kapal barkas yang telah berjasa besar menyelamatkan kami. Kami saling memberikan tembakan penghormatan kepada benteng dan kapal-kapal lain selagi berlayar meninggalkan perlabuhan.
 
Kota Kupang terletak di sebuah teluk besar yang daerahnya cocok untuk jalur pelayaran. Kota ini berada pada 10° 12’ Lintang Selatan menurut peta pelayaran Belanda berada pada 121° 51 Bujur Timur. Tapi dengan menghitung proyeksi rata-rata bujur Kota Kupang, yakni anuira perkiraan awal saat kedatangan kami dengan perkiraan setelahnya dalam pelayaran kami ke Batavia, agaknya Kota Kupang terletak pada 124° 4 Bujur Timur.
 

Koloni ini dibangun pada 1630 dan merupakan satu-satunya permukiman Belanda di pulau Timor. Bangsa Belanda tinggal di wilayah berbeda di pulau tersebut. Di sisi utara Timor terdapat permukima Portugis. Hasil bumi terbesar di pulau ini adalah kayu cendana dan IiIii lebah. Sayangnya, kayu cendana sekarang semakin langka, sementara lilti, lebah sangat berlimpah. Lebah-lebah membuat sarang mereka di semak. semak dan di antara dahan-dahan pohon yang sulit dijangkau oleh penduduk lokal tanpa bantuan api. Hasil panen madu ditempatkan pada toples-toples dan lilin dari sarang diolah menjadi balok-balok berukuran 3 kaki (91 sentimeter) kemudian dipotong menjadi kotak-kotak kecil herukuran 12-15 Inci (30-38 sentimeter). 
 
Penduduk lokal, setidaknya mereka yang tinggal di daerah sekitar Kupang, sangat pemalas. Sifat ini dimanfaatkan orang-orang Cina karena, walaupun orang-orang Melayu senang melakukan perdagangan, sebagian besar barang dagangan mereka dibawa oleh perahu kecil milik orang Cina yang sanggup mengangkut 10-30 ton beban. Ada sebuah pasar di Kupang dalam skala yang lebih kecil, tempat jual beli orang-orang yang datang dari pedalaman. Saya pernah menyaksikan seorang dari desa datang ke pasar untuk menjual dua buah kentang dan ini bukan sesuatu hal yang aneh. Kentang tersebut dijual seharga dua doit (atau koin receh yang setara dengan setengah sen Inggris). Nilai itu cukup untuk membeli persediaan pinang dan mencukupi kebutuhannya di sisa hari yang akan ia habiskan untuk bersantai di kota.
 
Penduduk pedalaman, yang hidup jauh dan orang-orang Eropa, bertubuh kuat dan aktif. Tapi kebiasaan mereka yang kurang bersih menyebabkan mereka mudah terserang penyakit.
 
Kepala suku penduduk asli atau raja pulau adalah Keyser (Kaisar) yang di diuinjuk oleh Belanda. Pemimpin mi tinggal di sebuah tempat yang disebut Backennassy yang jauhnya sekitar 4 mill (6 kilometer) dari Kupang. Kedaulatannya atas penduduk lokal tidak sepenuhnya diakui karena pihak Belanda mencurigai adanya campur tangan orang-orang Portugis yang mendiami  wilayah utara Timor. Akhir-akhir ini, penduduk pulau tersebut tengah mengalami masa sulit akibat perseteruan antara raja yang memegang tampuk kekuasaan saat ini dengan salahsatu keponakannya. Hal ini mengakibatkan pecahnya perang saudara yang berlangsung antara awal 1786 hingga 1788--persengketan berakhir dengan perjanjian damai yang lebih  menguntungkan pihak raja. Kerusakan yang terjadi akibat pertikaian yang dengan sendirinya mengakibatkan kelangkaan bahan pangan ini—kemungkinan juga dipicu oleh kurangnya usaha dan para penduduk iriit pat —tidak akan segera bisa dipulihkan. 
 
Saya rnendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Sang Raja. Ia tinggal di sebuah rumah besar yang hanya dibagi menjadi tiga bagian dan dikelilingi serambi yang ditempatkan secara strategis tetapi sangat kotor, seperti halnya perabotan yang ada di rumah itu. Sang Raja yang merupakan seorang pria paruh baya menerima saya dengan penuh sopan santun. Ia menyediakan kudapan sebelum saya datang berupa teh, kue beras, jagung bakar dan dendeng kerbau beserta segelas arak. Saya rasa ia menyajikansemua  yang ia punya.
 
Pakaiannya berupa kain bermotif kotak-kotak yang dililitkan pada pinggangnya lalu diikat dengan ikat pinggang sutra dan emas, sebuah Jaket linen Ionggar dan sehelai saputangan kasar sebagai pengikat kepalanya Beberapa orang pejabat ada bersamanya ikut ambil bagian dalam pertemuan singkat kami. Tak lama kemudian, Raja permisi. meninggalkan ruangan selama beberapa saat bersama  tiga orang dan mereka. Ketik kembali, ia memberikan sebuah piring yang terbuat dari logam berdiamerer 4 inci (10 sentimeter) dengan cap bergambar bintang tengahnya. Saya sebenar sudah mempersiapk bingkisan berupa arak, karena sejak awal saya diberitahu bahwa penduduk lokal akan dengan senang hati menerima arak sebagai hadiah. Hadiah itu pun diterima dengan baik oleh raja. Mereka tidak pern mengencerkan minuman keras mereka dan karena sudah menjadi kebiasan mereka sanggup meminum alkohol dalam jumlah besar dalam satu waktu tanpa menjadi mabuk.
 
Ketika Sang Raja meninggal, diselenggarakan acara tasyakuran sui besar-besaran—seluruh penduduk diundang. Jenazah Sang Raja baru dimasukkan ke dalam peti mati sekitar beberapa han setelah kematiannya. Peti tersebut kemudian ditutup dan disemayamkan selama tiga tahun, sebelum dimakamkan.
 
Belanda telah berupaya hingga tahap tertentu untuk menyebarkan ajaran Kristen di antara penduduk lokal, namun tidak terlalu berhasil kecuali untuk di daerah sekitar Kupang. Raja yang sekarang memerintah Kupang dibaptis dengan nama Barnardus. Nama Pribuminya adalah Bacche Bannock. Kitab suci kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Doa-doa pun dipanjatkan dan gereja di Kupang oleh seorang pendeta Melayu dalam bahasa Melayu.
 
Di Timor, saya menemukan banyak jenis buah-buahan yang diceritakan dalam catatan pelayaran Kapten Cook yang pertama sebagai buah asli dari Batavia, kecuali manggis. Pohon bread fruit yang disebut Soccoom (atau sukun) oleh orang Melayu juga tumbuh subur di sini. Sepertinya sukun merupakan tanaman asli pulau ini meski di Otaheite (Tahiti) juga ada buah serupa. Bentuk buahnya sama persis, namun rasanya tidak enak. Buah sukun Timor setengah kali lebih berat dan buah sukun Tahiti dengan ukuran yang sama. Tapi di pulau ini buah tersebut tidak diolah menjadi roti melainkan dimakan langsung dengan susu dan gula. Di Backennassy, saya melihat ada sekitar 20 pohon sukun yang lebih besar dibandingkan pohon sukun mana pun yang pernah saya lihat di Tahiti. Di sini juga ada pohon sukun yang menghasilkan biji. Rasanya tidak berbeda dari kacang Windsor (sejenis buncis) dan sama-sama lezat baik itu direbus atau pun dipanggang. Tidak ada bagian lain dan buah itu yang dapat dimakan. Walaupun pepohonannya, menurut informasi yang saya dapat memiliki karakter serupa, tetapi buahnya tidaklah mirip. Buahnya dilapisi oleh duri-duri yang mencuat dengan panjang hampir 1,5 Inci (sekitar 4 sentimeter).
 
Saya menerima hadiah berupa beberapa tunas pohon yang bagus dari Sang Gubernur. Sayangnya tunas-tunas harus saya tinggalkan di Batavia karena dihutuhkan ruangan khusus untuk merawat mereka—yang kemudian dikirim rnenggunakan paket ketika saya kembahi ke Eropa. Tuan Wanjon juga menghadiahkan beberapa bibit tanaman untuk kebun Yang Mulia di Kew (london), yang berhasil bertahan hidup selama perjalanan pulang saya ke Eropa dan beberapa padi gunung dan ladang persawahan kering di Timor dikirim ke kebun botani Yang Mulia di St. Vincent (salahsatu pulau di laut Kiribia) serta ke beberapa daerah lain di Hindia Barat. 
 
Kesamaan bahasa di kalangan suku-suku di kepulauan Laut Selatan penduduk di sebagian besar pulau di Hindia Belanda memang telah diungkap dalam jurnal pelayaran Kapten Cook yang pertama. Namun di sini persamaan tersebut terlihat lebih jelas dari temuan terdahulu, terutama dalam unsur-unsur kata bilangan. Selain bahasa, saya mengamati beberapa adat kebiasaan di antara masyarakat Timor yang terhihat lebih mirip satu sama lainnya, Mereka mempraktikkan Tooge—tooge1 seperti yang ada di Friendly Island. Mereka meyebutnya Toombock. Sementara Roomee (sejenis pijat badan) asal asal Tahiti  disebut Ramas. Saya juga mehihat penduduk di daerah ini menaruh keranjang berisi tembakau dan pinang sebagai sajian di pemakaman.
 
Ketika saya berlayar, Sang Gubernur, Tuan Van Este sudah hampir meninggal. Kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas segala keramahan dan sikapnya yang selalu bersahabat. Buruknya kondisi kesehatannya merupakan satu-satunya kendala yang menghalanginya untuk memberikan perhatian lebih kepada kami. Sayangnya, saya hanya bisa memberikan penghormatan dengan mengenangnya saja.
 
Beruntung, Tuan Wanjon, orang kedua setelah Gubernur, memiliki sikap empati serupa dan siap membantu kami. Perhatiannya tidak pernah berubah. Ketika ia ragu-ragu memberi saya uang untuk membeli kapal, dengan senang hati ia melakukan (membeli kapal) itu sendiri. Tanpa keputusannya itu, tidak diragukan lagi saya pasti terlambat tiba di Batavia sehingga tidak mungkin berlayar ke Eropa pada Oktober. Saya hanya bisa membalas jasa mereka dengan selalu merasa bersyukur atas keberadaan mereka.
 
Tuan Max, dokter bedah kota, juga memperlakukan kami dengan cara yang sama. Ia mengurus semua orang dengan saksama, yang untuk itu, saya tidak pernah berhasil membujuknya untuk menerima bayaran apa pun atau menuliskan surat hutang atau jawaban lain selain bahwa apa yang ia lakukan sudah menjadi bagian dan tugasnya sebagai seorang dokter.
 
William Bligh, (1792),  A Voyage to the South Sea, Undertaken Command of His Majesty for the Purpose of Corweying the Bread-fruit Tree the West Indies, in His Majesty’s Ship the Bounty ... Including an Account the Mutiny on Board the Said Ship... London: George Nicol, edisi faksimili diperbanyak oleh the Libraries Board of Australia, Adelaide, dari sebuah salinan yang dimiliki oleh State Library of South Australia, 1969. hlm, 227—228, 231—245.
 
Sumber
Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544 - 1992 ; George Miller ;Komunitas Bambu, 2012
 
 

Bukan Facebooker..?? Tulis Komentar anda disini


Security code
Refresh