Koloni ini dibangun pada 1630 dan merupakan satu-satunya permukiman Belanda di pulau Timor. Bangsa Belanda tinggal di wilayah berbeda di pulau tersebut. Di sisi utara Timor terdapat permukima Portugis. Hasil bumi terbesar di pulau ini adalah kayu cendana dan IiIii lebah. Sayangnya, kayu cendana sekarang semakin langka, sementara lilti, lebah sangat berlimpah. Lebah-lebah membuat sarang mereka di semak. semak dan di antara dahan-dahan pohon yang sulit dijangkau oleh penduduk lokal tanpa bantuan api. Hasil panen madu ditempatkan pada toples-toples dan lilin dari sarang diolah menjadi balok-balok berukuran 3 kaki (91 sentimeter) kemudian dipotong menjadi kotak-kotak kecil herukuran 12-15 Inci (30-38 sentimeter). 
 
Penduduk lokal, setidaknya mereka yang tinggal di daerah sekitar Kupang, sangat pemalas. Sifat ini dimanfaatkan orang-orang Cina karena, walaupun orang-orang Melayu senang melakukan perdagangan, sebagian besar barang dagangan mereka dibawa oleh perahu kecil milik orang Cina yang sanggup mengangkut 10-30 ton beban. Ada sebuah pasar di Kupang dalam skala yang lebih kecil, tempat jual beli orang-orang yang datang dari pedalaman. Saya pernah menyaksikan seorang dari desa datang ke pasar untuk menjual dua buah kentang dan ini bukan sesuatu hal yang aneh. Kentang tersebut dijual seharga dua doit (atau koin receh yang setara dengan setengah sen Inggris). Nilai itu cukup untuk membeli persediaan pinang dan mencukupi kebutuhannya di sisa hari yang akan ia habiskan untuk bersantai di kota.
 
Penduduk pedalaman, yang hidup jauh dan orang-orang Eropa, bertubuh kuat dan aktif. Tapi kebiasaan mereka yang kurang bersih menyebabkan mereka mudah terserang penyakit.
 
Kepala suku penduduk asli atau raja pulau adalah Keyser (Kaisar) yang di diuinjuk oleh Belanda. Pemimpin mi tinggal di sebuah tempat yang disebut Backennassy yang jauhnya sekitar 4 mill (6 kilometer) dari Kupang. Kedaulatannya atas penduduk lokal tidak sepenuhnya diakui karena pihak Belanda mencurigai adanya campur tangan orang-orang Portugis yang mendiami  wilayah utara Timor. Akhir-akhir ini, penduduk pulau tersebut tengah mengalami masa sulit akibat perseteruan antara raja yang memegang tampuk kekuasaan saat ini dengan salahsatu keponakannya. Hal ini mengakibatkan pecahnya perang saudara yang berlangsung antara awal 1786 hingga 1788--persengketan berakhir dengan perjanjian damai yang lebih  menguntungkan pihak raja. Kerusakan yang terjadi akibat pertikaian yang dengan sendirinya mengakibatkan kelangkaan bahan pangan ini—kemungkinan juga dipicu oleh kurangnya usaha dan para penduduk iriit pat —tidak akan segera bisa dipulihkan. 
 
Saya rnendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Sang Raja. Ia tinggal di sebuah rumah besar yang hanya dibagi menjadi tiga bagian dan dikelilingi serambi yang ditempatkan secara strategis tetapi sangat kotor, seperti halnya perabotan yang ada di rumah itu. Sang Raja yang merupakan seorang pria paruh baya menerima saya dengan penuh sopan santun. Ia menyediakan kudapan sebelum saya datang berupa teh, kue beras, jagung bakar dan dendeng kerbau beserta segelas arak. Saya rasa ia menyajikansemua  yang ia punya.
 
Pakaiannya berupa kain bermotif kotak-kotak yang dililitkan pada pinggangnya lalu diikat dengan ikat pinggang sutra dan emas, sebuah Jaket linen Ionggar dan sehelai saputangan kasar sebagai pengikat kepalanya Beberapa orang pejabat ada bersamanya ikut ambil bagian dalam pertemuan singkat kami. Tak lama kemudian, Raja permisi. meninggalkan ruangan selama beberapa saat bersama  tiga orang dan mereka. Ketik kembali, ia memberikan sebuah piring yang terbuat dari logam berdiamerer 4 inci (10 sentimeter) dengan cap bergambar bintang tengahnya. Saya sebenar sudah mempersiapk bingkisan berupa arak, karena sejak awal saya diberitahu bahwa penduduk lokal akan dengan senang hati menerima arak sebagai hadiah. Hadiah itu pun diterima dengan baik oleh raja. Mereka tidak pern mengencerkan minuman keras mereka dan karena sudah menjadi kebiasan mereka sanggup meminum alkohol dalam jumlah besar dalam satu waktu tanpa menjadi mabuk.
 
Ketika Sang Raja meninggal, diselenggarakan acara tasyakuran sui besar-besaran—seluruh penduduk diundang. Jenazah Sang Raja baru dimasukkan ke dalam peti mati sekitar beberapa han setelah kematiannya. Peti tersebut kemudian ditutup dan disemayamkan selama tiga tahun, sebelum dimakamkan.
 
Belanda telah berupaya hingga tahap tertentu untuk menyebarkan ajaran Kristen di antara penduduk lokal, namun tidak terlalu berhasil kecuali untuk di daerah sekitar Kupang. Raja yang sekarang memerintah Kupang dibaptis dengan nama Barnardus. Nama Pribuminya adalah Bacche Bannock. Kitab suci kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Doa-doa pun dipanjatkan dan gereja di Kupang oleh seorang pendeta Melayu dalam bahasa Melayu.
 
Di Timor, saya menemukan banyak jenis buah-buahan yang diceritakan dalam catatan pelayaran Kapten Cook yang pertama sebagai buah asli dari Batavia, kecuali manggis. Pohon bread fruit yang disebut Soccoom (atau sukun) oleh orang Melayu juga tumbuh subur di sini. Sepertinya sukun merupakan tanaman asli pulau ini meski di Otaheite (Tahiti) juga ada buah serupa. Bentuk buahnya sama persis, namun rasanya tidak enak. Buah sukun Timor setengah kali lebih berat dan buah sukun Tahiti dengan ukuran yang sama. Tapi di pulau ini buah tersebut tidak diolah menjadi roti melainkan dimakan langsung dengan susu dan gula. Di Backennassy, saya melihat ada sekitar 20 pohon sukun yang lebih besar dibandingkan pohon sukun mana pun yang pernah saya lihat di Tahiti. Di sini juga ada pohon sukun yang menghasilkan biji. Rasanya tidak berbeda dari kacang Windsor (sejenis buncis) dan sama-sama lezat baik itu direbus atau pun dipanggang. Tidak ada bagian lain dan buah itu yang dapat dimakan. Walaupun pepohonannya, menurut informasi yang saya dapat memiliki karakter serupa, tetapi buahnya tidaklah mirip. Buahnya dilapisi oleh duri-duri yang mencuat dengan panjang hampir 1,5 Inci (sekitar 4 sentimeter).
 
Saya menerima hadiah berupa beberapa tunas pohon yang bagus dari Sang Gubernur. Sayangnya tunas-tunas harus saya tinggalkan di Batavia karena dihutuhkan ruangan khusus untuk merawat mereka—yang kemudian dikirim rnenggunakan paket ketika saya kembahi ke Eropa. Tuan Wanjon juga menghadiahkan beberapa bibit tanaman untuk kebun Yang Mulia di Kew (london), yang berhasil bertahan hidup selama perjalanan pulang saya ke Eropa dan beberapa padi gunung dan ladang persawahan kering di Timor dikirim ke kebun botani Yang Mulia di St. Vincent (salahsatu pulau di laut Kiribia) serta ke beberapa daerah lain di Hindia Barat. 
 
Kesamaan bahasa di kalangan suku-suku di kepulauan Laut Selatan penduduk di sebagian besar pulau di Hindia Belanda memang telah diungkap dalam jurnal pelayaran Kapten Cook yang pertama. Namun di sini persamaan tersebut terlihat lebih jelas dari temuan terdahulu, terutama dalam unsur-unsur kata bilangan. Selain bahasa, saya mengamati beberapa adat kebiasaan di antara masyarakat Timor yang terhihat lebih mirip satu sama lainnya, Mereka mempraktikkan Tooge—tooge1 seperti yang ada di Friendly Island. Mereka meyebutnya Toombock. Sementara Roomee (sejenis pijat badan) asal asal Tahiti  disebut Ramas. Saya juga mehihat penduduk di daerah ini menaruh keranjang berisi tembakau dan pinang sebagai sajian di pemakaman.
 
Ketika saya berlayar, Sang Gubernur, Tuan Van Este sudah hampir meninggal. Kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas segala keramahan dan sikapnya yang selalu bersahabat. Buruknya kondisi kesehatannya merupakan satu-satunya kendala yang menghalanginya untuk memberikan perhatian lebih kepada kami. Sayangnya, saya hanya bisa memberikan penghormatan dengan mengenangnya saja.
 
Beruntung, Tuan Wanjon, orang kedua setelah Gubernur, memiliki sikap empati serupa dan siap membantu kami. Perhatiannya tidak pernah berubah. Ketika ia ragu-ragu memberi saya uang untuk membeli kapal, dengan senang hati ia melakukan (membeli kapal) itu sendiri. Tanpa keputusannya itu, tidak diragukan lagi saya pasti terlambat tiba di Batavia sehingga tidak mungkin berlayar ke Eropa pada Oktober. Saya hanya bisa membalas jasa mereka dengan selalu merasa bersyukur atas keberadaan mereka.
 
Tuan Max, dokter bedah kota, juga memperlakukan kami dengan cara yang sama. Ia mengurus semua orang dengan saksama, yang untuk itu, saya tidak pernah berhasil membujuknya untuk menerima bayaran apa pun atau menuliskan surat hutang atau jawaban lain selain bahwa apa yang ia lakukan sudah menjadi bagian dan tugasnya sebagai seorang dokter.
 
William Bligh, (1792),  A Voyage to the South Sea, Undertaken Command of His Majesty for the Purpose of Corweying the Bread-fruit Tree the West Indies, in His Majesty’s Ship the Bounty ... Including an Account the Mutiny on Board the Said Ship... London: George Nicol, edisi faksimili diperbanyak oleh the Libraries Board of Australia, Adelaide, dari sebuah salinan yang dimiliki oleh State Library of South Australia, 1969. hlm, 227—228, 231—245.
 
Sumber
Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544 - 1992 ; George Miller ;Komunitas Bambu, 2012