×

Warning

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Manfaat lebih tali tambang yang terikat di haluan kapal mungkin jarang diketahui kecuali pada penggambaran dua kelompok manusia yang pada saat ini sedang saling memperkenalkan diri. Seorang pengamat biasa akan hingung mana yang harus lebih dikagumi; mata orang-orang kelaparan yang mendadak bersinar penuh kelegaan atau rasa ngeri yang tampak pada wajah-wajah tuan rumah saat melihat begitu banyak sosok yang menyerupai hantu yang jika saja tidak diketahui apa penyebabnya, orang akan berpikii bahwa ekspresi itu lebih disebabkan oleh rasa takut ketimbang kasihan. Tubuh kami hanya tinggal tulang dan kulit. Kaki dan tangan kami penuh luka. Pakaian yang kami kenakan juga sudah compang camping. Dalam kondisi ini, dengan beruraia airmata bahagia dan rasa terima kasih yang besar, orang-orang Timor menerima kami dengan perasaan campur aduk antara ngeri, terkejut dan kasihan menjadi satu.
 
Walaupun sedang sakit keras, Sang Gubernur, Tuan William Adrian Van Este, rupanya sangat penasaran dengan kondisi kami. Sayapun diminta menghadap sebelum waktu yang telah ditentukan. Ia menerima saya dengan penuh rasa belaskasih dan bersikap sebagaimana seseorang yang benar-benar ramah dan baik hati. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas musibah yang menimpa kami. Meski begitu, ia merasa bahwa kejadian ini menjadi berkah terbesar dalam hidupnya karena kami sekarang berada di bawah perlindungannya. Walaupun kini ia sangat lemah sehingga tidak turun tangan membantu seorang teman secara langsung, ia tetap memberikan perintah yang saya yakin akan banyak membantu kami memasok kebutuhan yang kami perlukan.
 
Sebuah rumah akan segera disiapkan sebagai tempat tinggal untuk saya dan anakbuah saya. Gubernur mengatakan mereka dapat tinggal di rumah sakit atau di atas kapal Kapten Spikerman, yang ditambatkan di pelabuhan. Dengan berat hati ia menyampaikan bahwa Kupang tidak bisa menyediakan komodasi yang lebih baik bagi kami. Rumah yang dikhususkan untuk saya merupakan satu-satunya rumah yang tidak dihuni saat ini sedangkan situasi yang sedang dialami beberapa keluarga yang tinggal di kota tidak memungkinkan mereka menampung orang asing. Jadi untuk sementara in sampai semua masalah bisa diatur dengan baik, makanan untuk anakbuah saya akan disiapkan di rumahnya.
 
Pada saat kembali ke rumah Kapten Spikerman, saya lega mengetahui bahwa anakbuah saya mendapatkan pertolongan yang mereka perlukan. Dokter bedah telah mengobati luka-luka mereka. Mereka juga bisa mandi, bahkan mendapatkan beberapa hadiah persahabatan berupa pakaian.
 
Saya minta diantarkan ke rumah yang disediakan untuk saya yang ternyata sudah siap huni lengkap dengan pelayan. Rumah itu terdiri sebuah aula, dengan ruangan disetiap ujungnya. Rumah tersebut di kelilingi serambi dengan ruangan terpisah di salahsatu sudutnya dan pintu yang menghubungkan bagian belakang rumah dengan jalan. Karena itulah saya bersikeras agar semua anakbuah saya dibiarkan tinggal di rumah itu daripada ditempatkan terpisah.
 
Saya pun membagi rumah tersebut sebagai berikut: saya mendiam satu kamar khusus, kamar lain akan digunakan nakhoda, dokter bedah Tuan Nelson dan si penembak meriam, para perwira akan tinggal di loteng sedangkan anakbuah kapal akan tinggal di ruangan terpisah. Aula akan menjadi ruang pertemuan para perwira, sedangkan serambi belakang adalah tempat berkumpul semua anakbuah kapal. Saya kemudian menyampaikan pembagian ini kepada Gubernur. Hasilnya, ia segera mengirimkan sejumlah kursi, meja dan bangku beserta selimut dan perlengkapan lain yang diperlukan oleh setiap orang.
 
Ketika berpamitan, Sang Gubernur berharap saya akan memberitahunya segala sesuatu yang saya butuhkan. Sayangnya, hanya pada saat tertentu saja ia sanggup melawan penyakitnya atau bisa melakukan sesuatu. Sang Gubernur terserang penyakit yang belum ada obatnya dan saat ini be1iau sedang sekarat. Atas pertimbangan itulah, saya kemudian menyelesaikini semua transaksi dengan Tuan Timotheus Wanjon, menantu Gubernur. merupakan orang terpenting kedua di tempat mi. Ia telah berusaha sekuê tenaga untuk membuat kami selalu merasa nyaman. Saya menyadari bahwa sebelumnya saya telah menerima informasi yang salah dan pelaut yan menyatakan bahwa Kapten Spikerman adalah pemegang tampuk kekuasai kedua setelah Gubernur.
 
Pada siang hari, makan malam sudah diantarkan ke rumah dalam porsi besar. Bahkan untuk orang yang biasa dengan makanan berlimpah bisa-bisa menjadi kekenyangan. Meski demikian, saya yakin hanya sedikit orang yang bisa menahan diri dalam kondisi seperti itu dibandingkan dengan anakbuah saya. Yang paling saya khawatirkan adalah bahwa mereka akan terlalu banyak memakan buah karena sekarang sedang musim buah-buahan.
 
Setelah yakin bahwa semua orang telah menikmati makanan yan berlimpah mi, saya pun bersantap dengan Tuan Wanjon. Tetapi saya tidak begitu nafsu makan. Saya pikir yang lebih saya butuhkan untuk memulihkan kondisi saat ini adalah istirahat dengan suasana yang tenang. Karena itu saya segera mohon diri dan masuk ke dalam kamar yang ternyata telah di1engkapi dengan segala perabotan untuk memastikan kenyamanan saya. Narnut bukannya beristirahat, saya justru mengenang kemalangan yang baru saja kami lalui dan tentang kegagalan ekspedisi. Tetapi di atas segalanya, saya sangat bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kami kekuatan untuk saling mendukung dan mengatasi setiap cobaan yang begitu berat. Bahkan pada akhirnya memungkinkan saya menyelamatkan 18 nyawa orang-orang yang menjadi tanggungjawab saya.
 
Pada masa sulit, komandan akan menanggung beban terbesar. Dari peristiwa yang baru saja kami alami, hal tersebut setidaknya bukanlah masalah utama saya. Saya menguatkan tekad melanjutkan pelayaran meski anakbuah saya terus memohon agar mereka diperbolehkan mendapat makan lebih - yang dengan berat hati harus saya tolak. Pentingnya penghematan dalam pembagian persediaan harus dipertegas, yakni dengan menolak permohonan mereka dan tidak pernah sekali pun tergoda melanggar perjanjian yang telah kami sepakati bersama. Dengan pembagian jatah seperti yang karni lakukan selama ini, saat tiba di Kupang kami masih memiliki persediaan makanan yang cukup untuk 11 hari ke depan. Dan seandainya kami tidak berhasil menemukan permukiman Belanda di Timor, saya yakin kami dapat meneruskan pelayaran ke Jawa karena semua kebutuhan yang kami perlukan masih mencukupi.
 
Kesulitan lain yang harus saya hadapi adalah tingkah orang-orang yang bebal. Jika saya tidak bertindak cepat, anakbuah saya akan langsung merapat di pantai begitu kami tiba di pulau Timor tanpa memikirkan bahwa mendarat di wilayah asing, yang jauh dan daerah permukiman bangsa Eropa, sama berbahayanya dengan berada dm antara penduduk Pribumi Hindia Belanda yang lain. Seandainya kami tidak menghemat jatah, jumlah persediaan makanan yang tersedia di kapal hanya akan cukup untuk konsumsi selama lima hari. Para perompak mungkin menyimpulkan bahwa kami tidak akan menemukan tempat pelarian lain selain Friendly Island (sebutan yang yang diberikan Kapten Cook untuk kepulauan Tonga). Kemungkinan, mereka mengira bahwa dengan keterbatasan bekal dan perlengkapan yang kami punya, tidak mungkin kami akan berusaha kembali ke negara asal kami-semustahil bahwa berita mengenai tindak kejahatan mereka bisa tendengar ke kampung halaman mereka.
 
Saya mulai mengenang kembali bagaimana nyawa kami terselamatkan di Tofoa karena suku-suku Hindia menunda penyerangan mereka. Betapa mereka dengan segala keterbatasan perbekalan, kami mampu mengarungi laut sejauh lebih dari 1.200 liga (6.667 kilometer) tanpa perlindungan dari cuaca buruk. Saya bersyukur bahwa di kapal terbuka dengan begitu banyak badai menerpa, kami tidak tenggelam dan tidak ada satu pun dan kami yang meninggal karena penyakit menular. Betapa kami sangat beruntung dapat melalui daerah-daerah tidak bersahabat tanpa insiden apa pun dan berhasil menemukan orang-orang terbaik dan paling bersahabat serta bersedia membantu kesulitan kami. Saya harus mengakui, ketika mengingat semua keberuntungan dan betapa kami terlepas dan keseluruhan masalah ini, ingatan akan rahmat yang begitu besar membuat saya sanggup menanggu dengan penuh kepasrahan dan kerelaan, kegagalan ekspedisi ini-walaupun saya sangat mendambakan keberhasilan. Tapi yang membingungkan, apakah keberhasilan ini mampu memenuhi harapan Yang Mulia sekaligus mereka yang pro kemanusiaan.
 
Berdasarkan pengalaman 16 hari pelayaran disertai hujan lebat turun hampir tiada hentinya, saya memiliki tips untuk menjaga kesehatan, Siapa saja yang menghadapi situasi semacam ini, celupkan pakaian ke dalam air laut dan kemudian memerasnya sesering mungkin begitu baju-baju basah kuyup oleh hujan—satu-satunya sumber air bersih yang ada. Saya yakin hal ini sangat membantu. Sebab, dengan cara itulah kami merasa seperti telah berganti pakaian kering lebih sering. Ada saat dimana kami harus melakukan hal ini hampir setiap waktu. Akibatnya pakaian menjadi compang-camping karena terlalu sering dipera kondisi basah baik akibat hujan atau pun percikan gelombang laut, kecuali beberapa hari sewaktu kami melewati pesisir New Holland (asal usul nama Australia).
 
Berkat pertolongan Tuhan, kami berhasil mengatasi kesulitan dan derita selama pelayaran yang paling berisiko ini. Kami berhasil mendarat dengan selamat di sebuah pelabuhan yang bersahabat, di mana segala kebutuhan dan kenyamanan telah disediakan.
 
Berkat perhatian dan kemurahan hati Sang Gubernur dan para bangsawan di Kupang, kami menerima berbagai bantuan. Tak Iama kemudian, kesehatan kami pun kembali pulih. Begitu sampai di sana, saya menyerahkan surat resmi yang berisi informasi hilangnya kapal “Bounty” kepada Gubernur. Kami pun memohon, atas nama Yang Mulia, agar bel segera menginstruksikan semua daerah koloni Belanda untuk menahan ka tersebut jika ia menampakkan diri. Bersama surat ini saya menyertakan daftar nama pemberontak.
 
Dalam salah satu kunjungan pertama saya menghadap Gubernur, juga mengajukan usulan supaya Nelson diizinkan pergi ke daerah pedala untuk meneliti tanaman yang tumbuh di sana. Permohonan ini langsung disetujui. Gubernur bahkan menawarkan bantuan; apa pun yang sekiranya yang diperlukan. Gubernur juga memastikan bahwa daerah pedalaman layak untuk diteliti karena daerah tersebut kaya tanaman langka dan tumbuhan obat-obatan. Sayangnya, tawaran ini tidak bisa saya manfaatkan. Nelson, scjak meninggalkan New Holland memang sudah dalam kondisi lemah, saat ini telah jatuh sakit akibat udara dingin karena lupa mengenakan baju hangat di cuaca dingin.
 
Untuk menjamin kedatangan kami di Batavia (Jakarta) sebelum armada keberangkatan ke Eropa pada Oktober, secara resmi saya mengutarakan niat menyewa kapal yang nantinya kami gunakan untuk berlayar ke Batavia. Sejumlah  tawaran berdatangan tetapi harganya tidak masuk akal. Akhirnya, saya memutuskan membeli sebuah sekunar (kapal layar bertiang dua) kecil di pelabuhan dengan panjang 34 kaki (10 meter). Setelah membayar 1.000 rix-dollar (sejenis koin dengan nilai sebesar 1 rix dolar=100 sen), saya menarik Resource--saya menamainya seperti nama sekuner milik Yang Mulia—keKarena daerah pesisir Jawa dikuasai perompak berperahu kecil, kami .i.a sekuner ini perlu dilengkapi persenjataan yang sesuai dengan ukuran kapal. Untuk hal ini, persahabatan dengan Tuan Wanjon sangat membantu. Ia memperbolehkan saya meminjam empat meriam putar kuningan, 14 senjata api kecil dan amunisi darinya. Saya bisa mengembalikan semua itu setibanya kami di Batavia.
 
Pada tanggal 20 Juli, saya kehilangan Tuan David Nelson. Ia meninggal karena demam tinggi. Saya sangat berduka atas meninggalnya pria jujur ini. Selama ini ia telah mengurus hal-hal yang menjadi tugasnya dengan cermat dan penuh perhatian. Demi memenuhi misi pelayaran ini, ia menyelesaikan segala sesuatunya sesuai rencana Ia sungguh berjasa dalam pelayaran ke sini (Timor). Dengan kesabaran dan keuletannya, ia banyak membantu saya selama perjalanan.
 
Tanggal 21 Juli. Hari ini sayar menghadiri pemakaman Tuna Nelson. Jenasahnya di usung 12 prajurit berseragam hitam dengan seorang pendeta berjalan di muka. Iring-iringan itu diikuti oleh saya sendiri, Wakil Gubernur, kemudian 10 orang bangsawan kota dan beberapa orang perwira dari kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan. Setelah barisan ini, baru giliran perwira-perwira dan anakbuah saya.
 
Untuk pembacaan doa pada upacara penguburan, jenazah dikebumikan ke belakang kapel pada tanah pemakaman yang memang disediakan khusus untuk orang-orang Eropa di Kota ini. Saya menyesal tidak bisa menaruh nisan di atas makamnya
 
Pelayaran ini adalah kedua Tuan Nelson ke lautan selatan. Sebelumnya, bangsawan Joseph Banks mengirimnya ke daerah itu untuk mengumpulkan tumbuhan, biji-bijian dan lain-lain dalam pelayaran terakhir Kapten Cook. Sekarang, setelah berhasil melalui begitu banyak kesulitan dan di tengah-tengah rasa syukur atas keselamatannya, ia tiba-tiba berpulang.
 
Sekuner kami sedang diisi perbekalan dan disiapkan untuk berlayar, Pada tanggal 20 Agustus, saya berpamitan pada penduduk Kupang yang yang ramah bersahabat lalu segera berangkat. Kami berlayar pada sore hari, mengikuti sekuner di iringi kapal barkas yang telah berjasa besar menyelamatkan kami. Kami saling memberikan tembakan penghormatan kepada benteng dan kapal-kapal lain selagi berlayar meninggalkan perlabuhan.
 
Kota Kupang terletak di sebuah teluk besar yang daerahnya cocok untuk jalur pelayaran. Kota ini berada pada 10° 12’ Lintang Selatan menurut peta pelayaran Belanda berada pada 121° 51 Bujur Timur. Tapi dengan menghitung proyeksi rata-rata bujur Kota Kupang, yakni anuira perkiraan awal saat kedatangan kami dengan perkiraan setelahnya dalam pelayaran kami ke Batavia, agaknya Kota Kupang terletak pada 124° 4 Bujur Timur.