×

Warning

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading component: com_contact, Component not found

Tidak perlu berpanjang lebar memperkenalkan Kapten William Bligh. Namanya menjadi terkenal sejak ia diusir dari kapal Bounty, menyusul pemberontakan yang dilakukan awak kapalnya pada April 1789. Menggunakan kapal barkas terbuka berukuran 23 kaki (7 meter), Bligh berlayar ke arah barat melintasi Samudera Pasifik menuju pesisir timur Australia, diteruskan ke utara dan (berbelok) ke barat menuju daerah koloni Belanda di pulau Timor yakni Kupang. Setelah petualangannya yang merupakan salah satu prestasi besar yang pernah tercatat dalam sejarah pelayaran dunia, ia dan ke-18 awak kapal yang diusir bersamanya dan Bounty tiba di Kupang pada 14 Juni 1789. Mereka diterima dengan baik oleh pemerintah Belanda (yang berkuasa saat itu).
 
Bligh, yang tipikal karakternya sama dengan para navigator berkebangsaan Inggris kenamaan lainnya di masa itu seperti Kapten James Cook dan Letnan Matthew Flinders, merupakan orang cukup cermat mengamati dan mencatat dengan teliti tentang kejadian sehari-hari yang ia temui.
 
Kisah ini berawal saat mereka pertama kali melihat pulau Timor, dilanjutkan dengan cerita mengenai kembalinya sekelompok dari mereka yang pimpin oleh seorang mandor kapal setelah pendaratan pertama di sebuah desa kawasan Timor. Kelompok ini diutus untuk memastikan adanya lokasi permukiman koloni Belanda dipulau tersebut.
 
Jum’at tanggal 12. Pada pukul 3 pagi, dengan rasa gembira yang meluap-luap, kami menemukan daratan Timor yang terbentang dan barat-baratdaya hingga barat-barat laut. Saya sedang berlayar dengan bantuan angin dan utara-timurlaut hingga matahani terbit, ketika daratan tampak pada arah baratdaya-selatan hingga timurlaut-utara. Jarak kami dan pantai sekitar 2 liga (11 kilometer).
 
Tak sulit bagi saya melukiskan perasaan gembira yang kami rasakan saat akhirnya kami melihat daratan yang luar biasa tersebut ada di sekeliling kami. Yang tak dapat karni percaya adalab bahwa hanya berbekal sebuah kapal terbuka dan sedikit perbekalan kami berhasil mencapai pantai Timor dalam 41 hari setelah meninggalkan Tofoa, yang berdasarkan catatan dan perhitungan kami berjarak sekitar 3.618 mil (6.700 kilometer) jauhnya dan meskipun kondisi kami terbilang sangat mengenaskan, tidak seorang pun meninggal dalam pelayaran.
 
Saya sudah menyinggung bahwa saya tidak tahu di mana lokasi koloni Belanda berada. Tapi menurut perkiraan saya, permukiman itu terletak pada bagian baratdaya dari pulau ini Karena itulah, setelah matahari terbit, saya segera bergerak di sepanjang pantai ke arah selatan-baratdaya, yang memang harus saya lakukan karena arah angin tidak memungkinkan kami untuk kami berlayar ke arah timurlaut tanpa kehilangan banyak waktu.
 
Siang hari membantu kami untuk dapat melihat pulau tersebut dengan lebih baik yang terdiri dan hutan dan tanah lapang yang terletak silih berganti daerah pedalamannya berupa pegunungan, namun pantainya terletak pada daerah rendah. Menjelang siang hari, daerah pesisir semakin meninggi (pasang surut menyebabkan daerah yang sebelumnya berada di bawah air muncul ke permukaan) dengan sejumlah tanjung yang sungguh luar biasa. Kami sangat senang dengan sebagian besar pemandangan daerah ini yang menunjukkan sejumlah lahan pertanian dan tempat-tempat yang indah. Sayangnya kami hanya menemukan beberapa gubuk kecil. Itu sebabnya saya menyimpulkan bahwa tidak ada permukiman Eropa pada bagian lain pulau ini. Sebagian daerah ini tidak memiliki pantai, hal ini menyulitkan kami untuk mendarat…
 
Dengan jatah perbekalan berupa roti dan air seperti biasanya Untuk makan malam, saya membagi burung yang telah kami tangkap malam sebelumnya. Saya menuang sedikit anggur untuk dokter bedah dan Lebogue (salah seorang awak dan Bounty yang bertugas untuk membuat atau memperbaiki layar, yang diusir bersama Bligh).
 
Angin segar bertiup dan arah timur dan timur-tenggara dengan cuaca yang tidak menentu. Sepanjang siang hari, kami melanjutkan penjalanan di sepanjang pantai rendah yang ditumbuhi oleh begitu banyak pohon palem yang disebut palem kipas karena jajaran daunnya menyerupai kipas.
 
Namun kami tidak menemukan tanda-tanda adanya lahan pertanian.Tak tampak pula keindahan alam seperti yang dimiliki oleh wilayah-wilayah di daerah timur. Daerah ini tidak terlalu luas kanena pada saat matahari terbenam keadaan kembali sunyi dan saya melihat beberapa tiang asap membumbung dari daerah di mana para penduduk sedang membersihkan dan mengelola lahan mereka. Saat ini kami sudah menempuh jarak sejauh
 
25 mil (40 kilometer) ke arah barat-baratdaya sejak siang hari tadi dan berada 5 mil (8 kilometer) ke arah barat dari titik terendah, yang pada siang harinya saya bayangkan sebagai bagian paling selatan dan pulau ini. Pantai di sini membentuk cekungan dengan daratan rendah di bagian teluknya yang menyerupai sebuah kepulauan (terpisah)….
 
Saya baru saja selesai mencatat semua itu ketika saya melihat kepala kelasi dan si penembak meriam kembali ke kapal bersama beberapa penduduk lokal. Hal ini membuat saya tidak ragu lagi akan kesuksesan yang berhasil kami capai dan yakin bahwa harapan kami akan segera terpenuhi. Mereka membawa lima orang Hindia, sekaligus memberitahukan bahwa mereka juga menemukan dua keluarga dimana para wanitanya memperlakukan mereka dengan keramahtamahan seperti orang-orang Eropa. Dari orang-orang ini saya mengetahui bahwa Gubernur tinggal di sebuah kota yang dinamakan Coupang (Kupang) yang terletak cukup jauh ke arah timurlaut. Saya memberi isyarat kepada salah satu penduduk lokal untuk naik ke kapal dan menununjukkan jalan menuju Kupang serta mengisyaratkan saya akan membayar jerih payahnya. Pria itu pun langsung setuju dan ikut bersama ke kapal.
 
Orang-orang ini memiliki kulit berwarna kuning kecokelatan, berambut hitam panjang dan suka sekali mengunyah pinang. Pakaian yang mereka kenakan berupa kain persegi yang dibebat di sekeliling pinggang, pada lipatannya mereka selipkan sebuah pisau besar (parang); sebuah selendang digunakan sebagai penutup kepala; dan selembar lagi diikat pada keempat ujungnya dan disampirkan di bahu yang berfungsi sebagai kantung tempat tempat membawa perlengkapan menyirih. Mereka memberi kami beberapa potong kura-kura kering dan beberapa buah jagung lokal. Kami lebih menyukai
Jagung karena daging kura-kura yang kami peroleh sangat keras. Mustahil memakan daging kura-kura itu tanpa merebusnya terlebih dulu. Mereka menawarkan diri untuk membawakan kami makanan lain jika saya bersedia menunggu. Tetapi walaupun sang nakhoda bensedia menunggu, saya memaksa agar kami segera berlayar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 ketika akhirnya kami kembali mengangkat sauh.
 
Dengan arahan sang nakhoda, kami berlayar tidak jauh dan pantai  timur. Tetapi begitu malam tiba, angin berhenti bertiup. Kami terpaksa mendayung untuk meneruskan perjalanan. Sejujurnya, saya merasa terkejut karena kami bisa memanfaatkan dayung tersebut. Pada pukul 10, kami berhasil melaju walaupun dengan kecepatan pelan. Tak lama kemudian saya melempar sauh dan untuk pertama kalinya saya membagikan roti dua kali lebih hanyak juga sedikit anggur untuk setiap orang.
 
Minggu tanggal 14. Pada pukul satu dini bari, setelah menikmati tidur ternyenyak dan terlama dan yang pernah dirasakan oleh seluruh orang di kapal, kami angkat sauh melanjutkan berlayar pada permukaan air yang tenang dengan pantai timur sebagai acuan. Ketika saya menyadari bahwa kami telah kembali di laut lepas, tampak sebuah daratan terletak di arah barat, yang telah kami lewati merupakan sebuah pulau yang oleh nakhoda kami disebut pulau Samow (Semau). Bagian utara selat ini lebarnya sekitar 1,5-2 mil (2-3 kilometer) dan pada ketinggian sekitar 10 depa (18 meter) saya sudah tidak bisa melihat dasar laut lagi.
Laporan mengenai terdengarnya dua tembakan meriam memberikan.harapan baru kepada semua orang. Tak lama kemudian, kami berpapasan dengan sebuah kapal layar besar lengkap dengan dua tiang layar utama dan sebuah kapal layar yang sedang berlabuh di bagian timur. Kami berusaha memanfaatkan angin, namun terpaksa menggunakan dayung kembali karena dengan berjalannya waktu kami mulai kehilangan kecepatan. Kami masih masih berlayar dekat garis pantai dan terus mendayung hingga pukul empat,
 
Tepat ketika saya kembali melempar jangkar dan mulai membagikan roti dan anggur untuk semua orang. Setelah beristirahat sejenak, kami angkat jangkar dan kembali mengayuh dayung hingga menjelang matahari terbit. Sewaku kami kembali berlabuh tidak jauh dan benteng dan sebuah kota kecil nakhoda memberitahukan bahwa kami telah sampai di Kupang.
 
Di antara barang-barang yang dibawa oleh kepala kelasi dalam sekoci sebelum kami meninggalkan kapal, terdapat seikat bendera sinyal yang digunakan untuk menandai kedalaman air. Dan bendera-bendera inilah, sepanjang perjalanan kami membuat lambang kecil, yang saya kibarkan pada tali layar utama, sebagai tanda bahwa kami memerlukan bantuan. Saya pikir tidak baik mendarat tanpa mendapatkan izin terlebih dulu.
 
Tak lama setelah fajar merekah, seorang serdadu meminta kami merapat.Saya bersama sekumpulan orang-orang Hindia segera turun. Saya cukup terkejut karena kami bertemu dengan seorang pelaut Inggris yang bekerja pada salah satu kapal yang sedang berlabuh di pantai. Si pelaut mengatakan bahwa  kaptennya adalah orang nomor dua di kota itu. Informasi itulah yang membuat saya berharap bisa bertemu dengan beliau, terlebih kabarnya sang Gubernur sedang jatuh sakit dan tidak bisa ditemui saat ini.
 
Kapten Spikerman menyambut kedatangan saya dengan keramahan yang luar biasa. Saya pun menceritakan kesulitan yang sedang kami hadapi dan memohon supaya ia bersedia menolong para awak kapal yang datang bersama saya tanpa ditunda-tunda lagi. Ia langsung memberikan arahan agar awak kapal segera dijamu di rumahnya sendiri dan secara pribadi, ia segera pergi menghadap Gubernur untuk membuan janji; menanyakan pukul saya diperbolehkan menemuinya. Sang Gubernur ternyata telah ternayata telah menemukan waktunya. Ia bersedia menemui saya pada pukul sebelas.
 
Saat ini, saya sangat berharap para awak kapal dapat segera turun ke darat  walaupun tak banyak dan mereka yang masih sanggup berjalan. Meskipun demikian, mereka masih sanggup berjalan. Meskipun demikian tetap dibantu masuk ke dalam rumah untuk sarapan.