Sementara    itu, rakyat yang telah mengetahui    akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang    tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang    sakit,    malamnya panas dingin terus    menerus    dan baru    tidur    setelah selesai merumuskan te Proklamasi. Para undangan telah banyak    berdatangan, rakyat yang telah menunggu    sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka    yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan    teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih    dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.    Ia    juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah    seorang    anggota    PETA, segera memberi aba- aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu    sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta    maju beberapa    langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat    sebelum membacakan teks proklamasi.

"Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia    telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa    kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman    Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil    nasib bangsa dan nasib tanah air    kita    di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang    berani mengambil nasib dalam tangan    sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata    berpendapat,    bahwa sekaranglah    datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan    tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami    bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal    yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi    yang mengikat tanah air kita dan bangsa    kita! Mulai saat    ini kita menyusun    Negara    kita!    Negara Merdeka.    Negara Republik Indonesia    merdeka, abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu". (Koesnodiprojo, 1951).

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: " lebih baik seorang prajurit ," katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud    mengambil bendera dari    atas baki    yang    telah disediakan        dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan    lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan    lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran    bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi    Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan     barisan pelopor yang berjumlah kurang    lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki    halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang    penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung    Karno membacakan     Proklamasi sekali lagi.    Mendengar teriakan itu Bung    Karno tidak    sampai    hati,    ia    keluar    dari kam depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar     keterangan itu    Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi    amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai    upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.

Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan    menunggu di ruang belakang, tanpa    diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga    terpaksa    berpakaian    lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: " Kami    diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi ." " Proklamasi sudah saya ucapkan," jawab Bung    Karno dengan tenang. " Sudahkah ?" tanya utusan Jepang itu keheranan. " Ya, sudah !" jawab Bung Karno. Di sekeliling    utusan Jepang itu, mata para    pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara    itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah    itu, dokumentasinya hanya ada    tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran    bendera,    dan    sebagian    foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.    Penutup Peristiwa    besar    bersejarah yang    telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung    hanya satu    jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan    yang    luar biasa    dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . “Gema lonceng kemerdekaan”    terdengar    ke seluruh        pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para    pemuda, mahasiswa,    serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu    ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah    Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.(Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum/Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I.)

Dirgahayu Indonesiaku!



Sumber : http://www.setneg.go.id

Bukan Facebooker..?? Tulis Komentar anda disini


Security code
Refresh