Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta    kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di       lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan    tokoh-tokoh lainnya,    baik    dari golongan tua maupun    dari    golongan pemuda, menunggu di serambi muka.

Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam,    rumusan    teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan    konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan     Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan     kekuasaan    (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

Setelah kelompok yang menyendiri di    ruang    makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di    ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami    menggunakan kesempatan    untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang    dapur, yang telah disiapkan sebelumnya    oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami    belum makan apa- apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah    ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya    bercampur dengan    beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri    di samping    saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka    pertemuan dini hari itu dengan beberapa    patah kata. "Keadaan yang mendesak telah memaksa    kita    semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah    siap    dibacakan    di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar   bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing". Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar   bersama-sama    menandatangani    naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad    Hatta dengan mengambil contoh pada "Declaration of Independence " Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang    tidak    setuju    kalau tokoh-tokoh    golongan tua yang    disebutnya    "budak-budak Jepang" turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah    proklamasi    itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad    Hatta atas    nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu    diterima oleh hadirin.

Naskah    yang sudah    diketik oleh Sajuti Melik,    segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai    bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan    kepada    rakyat    di seluruh Indonesia ,    dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di   mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut    Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong- bondong    ke lapangan IKADA pada    tanggal 17 Agustus    untuk mendengarkan Proklamasi    Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno    menolak saran Sukarni. " Tidak ," kata Soekarno, " lebih    baik dilakukan    di tempat kediaman saya di Pegangsaan    Timur. Pekarangan    di    depan    rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing- mancing    insiden ? Lapangan    IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan    kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan    terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan    Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi ." Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.

Detik-Detik Proklamasi

Hari    Jumat di bulan Ramadhan, pukul    05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan    kemerdekaan bangsa Indonesia hari    itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para    pemuda    yang bekerja pada pers dan    kantor- kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada    Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan    seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan    satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di    belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi    tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera    yang dijahit    dengan    tan oleh Nyonya    Fatmawati    Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak    standar, karena kainnya berukuran tidak    sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.

Bukan Facebooker..?? Tulis Komentar anda disini


Security code
Refresh