×

Warning

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading component: com_contact, Component not found

DELAPAN PULUH TAHUN TELAH BERLALU, PANCASILA TERDEFINISIKAN SEBAGAI RUMUSAN RANGKUMAN FALSAFAH HIDUP RAKYAT YANG MENDIAMI KEPULAUAN YANG TERSEBAR DIDAERAH KATULISTIWA, DAERAH TEMU GELANG, DARI SABANG SAMPAI MERAUKE. RAKYAT YANG BERDIAM DISINI TELAH MENGENALI HIDUP BERSAMA DALAM KEHIDUPAN YANG HARMONIS SEJAK 2000 TAHUN YANG LALU
 



Rakyat yang mempunyai pandangan yang sama dalam perjuangannya meraih kehidupan yang lebih baik, untuk menjadi bangsa yang bermartabat, terbebas dari penindasan manusia atas manusia lainnya, berjuang meraih harkat dan martabatnya sebagai manusia yang diciptakan dan disempurnakan Tuhannya. Kesamaan dalam tujuan dengan visi dan misi yang sama, mensejajarkan diri sama sederajad dengan bangsa lain di bumi.

Kesatuan tekad telah terlahirkan didalam satu kesempatan ditahun 1928, dengan menyatukan visi dan misinya dengan menyatukan tekad dalam Sumpah pemuda, Satu Bangsa, Satu Tanah air dan Satu Bahasa Indonesia, merupakan awal keberadaan kita mejadi satu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,” Bung Karno bercerita, tempat menyendiri yang paling dia gemari adalah di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut. Pohon sukun itu ada di Ende. Dan, pada 80 tahun yang lalu, di bawah pohon sukun itu, Bung Karno merumuskan Pancasila. Ende pun disebut sebagai ‘rahim’ Pancasila.

Sejak peletakan batu pertama pemugaran situs Bung Karno di Ende oleh Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan dan Kebudayaan, 30 April 2012 sebulan yang lalu,  Seolah terbangun mengingat kembali peristiwa2 masa lalu sejak 80 tahun yang silam, denyut nadi Lapangan Pancasila tampak lebih hidup, dalam rangka merayakan hari kelahiran Pancasila tgl 1 Juni 2012

Senja sudah turun di Kota Ende, tepat 31 Mei 2012, suasana di seputar patung Bung Karno dan pohon sukun di hadapannya, tampak ramai.  Pada tanggal 1 juni 2012, masyarakat ende mengadakan ‘Doa Bersama dan Diskusi Publik’ bertema “Menjadikan Ende sebagai pusat sejarah Pancasila”

Renungan dan doa menyongsong hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. “Doa bersama ini bertujuan mendoakan arwah para pahlawan Tanah Air dan keselamatan bangsa Indonesia; juga untuk meningkatkan kerukunan antar-umat beragama serta memperkuat rasa solidaritas antar umat beragama,” jelas Ketua Panitia Nixon Tisera (43 tahun), Kepala Seksi Pemberitaan RRI Ende, di bawah pohon sukun.

Pohon Sukun Berbatang Lima

Pohon sukun bersejarah ini tampak terawat yang tertanam  di Lingkungan yang bersih. Tempat yang nyaman untuk duduk-duduk menikmati senja dan angin yang berhembus dari laut.

80 tahun lalu, Bung Karno sering duduk di sini, di bawah pohon sukun ini, untuk tempat merenung memikirkan Bagaimana Bangsa Indoesia Merdeka, dan harus bagaimana untuk memerdekakannya. di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang rindang inilah, terlahir pemikiran kenegaraan dan memantabkan suatu tekad atas keyakinannya menjadi satu bangsa dengan mendirikan satu Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pancasila yang terlahir adalah argumentasi kuat untuk memantabkan terlahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menaungi seluruh Rakyat yang berdiam di tanah temu gelang dari sabang sampai merauke. Dengan bekal Rumusan rangkuman falsafah Pancasila yang menghadirkan kebenaran tekad dan keyakinan kental untuk merumuskannya dalam satu definisi kesamaan falsafah pergaulan hidup manusia Indonesia, yang kemudian terumuskan menjadi Pancasila, yang di rangkum dalam Pancasila sebagai dasar Negara dan Bangsa.

Memang, jika kita membayangkan Ende di waktu lampau, sepi, terbuka dan bebas memandang ke laut lepas, deburan ombak sayup-sayup sampai, sangat mendukung lahirnya pikiran-pikiran cemerlang untuk bersatunya Indonesia.

Pohon sukun asli sudah tumbang dimakan usia dan terpaan angin.  Pohon baru, ditanam  17 Agustus 1981 pukul sembilan pagi. Proses penanaman dilakukan dalam upacara yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat Ende, dan orang-orang dekat Bung Karno semasa pembuangannya di Ende.

Tampaknya pohon sukun bercabang lima, namun jika diperhatikan pohon sukun ini kokoh dengan lima batang berdampingan  dari pangkal. “Ini hanya symbol, sebagai pengingat sejarah peristiwa yang harus dikenang. dimana Bung Karno memikirkan berdirinya negara dengan melahirkan kesamaan falsafah bangsa Indonesia sebagai dasar Negara yaitu Pancasila

Disini di Lapangan Pancasila dan duduk dibawah pohon sukun diwaktu senja membawa suasana, menghadirkan  kesadaran dan membuka mata generasi muda agar tidak masa bodoh dengan sejarah. “Sejarah hanya sekali, jadi harus selalu dikasih arti, Kalau ingat pohon sukun ini, ingat Pancasila, kalau ingat Pancasila ingat bagaimana kerukunan antar umat beragama, begitulah generasi masa depan harus belajar sejarah ini.

Ende Jejak Peradaban

Sejarah mencatat bahwa Kota Ende adalah ‘rahim’ lahirnya Pancasila. Inilah jejak peradaban yang senantiasa digaris bawahi sepanjang waktu. Demi ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ yang  disadari betul tumbuh di sini. Ende, untuk Indonesia, dan untuk dunia.

Oleh karena itu perlu di tata lebih indah, tempat bersejarah di sekitar pohon sukun tempat Bung Karno merenung, menjadi ruang publik yang nyaman dan penuh kenangan untuk anak-anak, orang muda, orang tua, segenap warga kota Ende, dan siapa saja yang datang ke Ende, untuk ikut mengenang sejarah lahirnya Pancasila.

Peletakan batu pertama yang difasilitasi Yayasan Ende Flores sebulan lalu, mudah-mudahan menjadi salah satu motivasi baru untuk membuat kota Ende, pohon sukun, lapangan pancasila lebih memiliki makna. Di kota Ende Bung Karno mengilhami Pancasila. Penting sekali bagi kita terutama generasi baru belajar dari sejarah. Jangan lupa Pancasila.

Renungan dan doa-doa tanggal 31 Mei 2012 di bawah pohon sukun, di Lapangan Pancasila, di hadapan patung Bung Karno yang berdiri membisu. Malam kian merambati   Kota Ende. Pohon sukun, patung Bung Karno, lapangan Pancasila tampak terang benderang. tanggal 1 juni 2012. Warga Kota Ende, terutama anak-anak muda mulai berdatangan memenuhi pelataran.

Renungan dan doa tanggal 1 juni 2012. Dengan harapan akan mengubah Ende dan Indonesia untuk menjadi bangsa besar dengan satu ideologi Pancasila? Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan  perwakilan,  dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terdera hati mengharu biru menyaksikan tokoh-tokoh  bangsa ini sibuk berkelahi tidak punya waktu lagi untuk diam merenungkan ke mana rakyat, bangsa, dan negara ini akan melangkah. Tercekat rasa hati melihat tokoh-tokoh daerah dan bangsa ini yang sibuk membangun kekuatan sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya untuk berkuasa dan melanggengkan kekuasaannya.

“Bung Karno! Kasih tanganmu, mari kita bikin janji,” kata Chairil Anwar. Agar doa dan renungan ini benar-benar memiliki arti. (maria matildis banda)

Di Ende, bermula berdiri rasa kebersamaan dalam perjuangan mengentaskan diri menjadi manusia bermartabat sebagai manusia yang di cipta dan di sempurnakan Tuhannya. Sama sederajad dengan Bangsa lain di bumi.

Di Bawah rindangnya pohon sukun, buah kehidupan telah lahir untuk Bangsa Indonesia dan Bangsa seluruh Dunia.

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

(by Zen Muttaqin,Sumber : http://olahraga.kompasiana.com)