×

Warning

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Error loading library: joomla, Library not found

Dalam masyarakat kita masih sering anak-anak kita mendapatkan kekerasan baik kekerasan fisik maupun psikis dan kekerasan ini seringkali terjadi di sekolah dan juga di rumah, padahal kedua tempat ini adalah tempat untuk membentuk watak dan karakter anak-anak kita yang kelak akan menjadi generasi penerus menggantikan kita.

Bisa kita bayangkan  generasi seperti apa yang akan kita ciptakan jika yang kita ajarkan kepada anak-anak kita adalah kekerasan, sehingga tidak mengherankan jika di negeri yang kita cintai ini kebanyakan warga negaranya lebih suka menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Begitu ada yang tidak puas kekerasanlah jalan keluarnya, baik masyarakat biasa hingga para anggota dewan kita yang terhormatpun sebih suka menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan pendapat.

Kekerasan anak merupakan sebuah siklus yang sangat sulit untuk diputuskan, saking sulitnya ada negara yang membutuhkan tujuh generasi untuk memutuskan siklus kekerasan ini. Sekarang mari kita lihat siklus kekerasan yang terjadi dalam masyarakat kita, saat seorang anak lahir ia sudah mulai diperkenalkan dengan kekerasan di lingkungan rumah, tidak jarang orangtua yang mencubit anaknya karena menangis atau ditakut-takuti jika tidak mengikuti keinginan orangtua atau saudara lain yang menjaganya. Memasuki masa kanak-kanak, anak juga mulai berkenalan dengan kekerasan, mulai dari teriakan dan pukulan jika tidak menuruti keinginan orangtua atau orang dewasa lainnya. Seringkali dengan tanpa sadar orangtua menunjukan cara menyelesaikan masalah dengan kekerasan kepada anak dengan jalan melakukan kekerasan kepada orang lain yang mengganggu sang anak.

Selepas masa kanak-kanak dan memasuki  masa remaja sang anak akan mencari model dan mengikuti perilaku orang disekitarnya untuk memperkuat pengalaman masa kanak-kanaknya, pada masa ini tontonan televisi juga  besar pengaruhnya. Seringkali para remaja melakukan kekerasan terhadap sesamanya (Bullying) atau sering juga mereka menjadi korban kekerasan orang dewasa yang selalu berlindung dibalik pemahaman bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mendisiplinkan anak.

Memasuki masa dewasa tanpa sadar kita akan membangun pemahaman kita bahwa kekerasan adalah cara yang harus dilakukan untuk mendisiplinkan orang lain dan mengajak orang lain untuk percaya akan hal ini. Berapa banyak pemimpin perusahaan atau pemimpin instansi yang membentak anak buahnya jika melakukan kesalahan, bahkan lebih banyak lagi pemimpin di negeri kita yang menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain sehingga berpikir bisa melakukan apa saja terhadap orang lain.

Memasuki usia tua kita selalu ingin agar pemahaman kita diwariskan kepada generasi di bawah kita, sehingga banyak guru yang telah pensiun jika ketemu muridnya  yang telah berhasil dalam karir atau menduduki jabatan tertentu akan mengatakan kalau itu adalah hasil dari didikan yang dilakukan dengan kekerasan. Tidak jarang pula orangtua yang menanamkan pemahaman kekerasan ini kepada anak-anak mereka bahwa mereka bisa menjadi “orang” seperti sekarang ini karena mendapatkan didikan berupa kekerasan.

Lalu bagaimana menghentikan lingkaran kekerasan ini? Hal ini tidaklah mudah karena persoalannya sama peliknya dengan masalah korupsi di negara kita ini, dan pendidikan saja tidak akan mampu memutuskan mata rantai kekerasan ini, karena banyak bukti menunjukan bahwa para guru kita yang berpendidikan sarjana tetap percaya bahwa kekerasan adalah cara terbaik dalam mendisiplinkan anak.  

Jika di sekolah kita sering mendengar Sekolah Ramah Anak (SRA) yakni program untuk mengurangi atau menghilangkan kekerasan anak di sekolah, maka rumah juga mesti demikian, yakni bagaimana membuat rumah menjadi ramah anak, dimana anak dihormati hak-haknya, dipenuhi kebutuhannya, diberi kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di rumah, dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan (fisik dan psikis) sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Mengapa kita harus membuat rumah menjadi ramah anak? Ada beberapa alasan untuk hal ini, pertama bukan hanya orang dewasa yang memiliki hak asasi tetapi anak juga memiliki hak anak, namun karena anak masih kecil dan sangat tergantung pada orang dewasa sehingga haknya seringkali diabaikan atau tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya. Alasan kedua adalah perkembangan anak menuntut tidak boleh terjadi perlakuan salah atau Abuse. Abuse adalah seluruh bentuk perlakuan buruk baik secara fisik, emosional atau seksual, penelantaran atau perlakuan lalai atau eksploitasi terhadap anak; karena hal ini akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak sepanjang hidupnya.

Metode mendisiplinkan anak tanpa kekerasan  telah terbukti efektif dan telah dipraktekkan bertahun-tahun di banyak negara maju adalah metode positive discipline. Metode ini selain memutuskan mata rantai kekerasan juga menciptakan warga negara yang baik dan taat akan hukum sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan dari warganya.

Lalu apa itu metode positive discipline? Menurut Joan E. Durant dalam Positive Discipline What it is and how to do it, Positive Discipline adalah tindakan mendisiplinkan anak dengan, cara yang positif, tanpa kekerasan, fokus pada pemecahan masalah, saling menghormati dengan didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak.
Dalam positive discipline kita mengajarkan dan menekankan perilaku baik dengan menghilangkan perilaku buruk, dengan tidak  menyakiti anak baik lisan maupun fisik, karena tidak ada anak yang buruk/nakal yang ada hanyalah perilaku mereka yang buruk/nakal. Positive Discipline   terdiri dari berbagai tehnik yang bisa digunakan secara kombinasi dalam menghadapi perilaku anak.

Positive Discipline bisa diterapkan di rumah dan juga di sekolah dengan teknik yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi, namun hal penting yang dipegang dalam penerapannya adalah prinsip-prinsip positive discipline yakni,  membantu anak untuk merasa diterima sebagai seorang manusia; menghormati anak serta mendorong anak untuk berperilaku baik dengan sayang dan tegas dalam satu waktu; memotivasi anak untuk menghargai kemampuannya. Dengan menerapkan positive discipline berarti kita mengajarkan anak tentang ketrampilan sosial (social skill) dan ketrampilan hidup (life skill) yakni dengan saling menghormati, peduli terhadap sesama, kerjasama serta pemecahan masalah.

Sebenarnya mendisiplinkan anak tidak membutuhkan teriakan apalagi pukulan, hal ini hanya akan membuat kita frustrasi dan sama sekali tidak ada manfaatnya baik untuk anak-anak kita maupun untuk diri kita, meski seringkali kita seolah merasa puas setelah menumpahkan perasaan kita kepada anak dengan jalan berteriak atau memukul. Percayalah dengan teriakan dan pukulan sama sekali tidak membantu anak untuk belajar bagaimana berperilaku baik, kita hanya mengajarkan anak untuk menjadi pelaku kekerasan pada generasi berikutnya, untuk itu marilah kita didik anak-anak kita dengan tanpa menggunakan teriakan dan pukulan. (Zainal Asikin – Fasilitator Forum Anak Kota Kupang)

 

Artikel Terkait :
Anak dan Korupsi
Pojok Ramah Anak di Puskesmas Pasir Panjang